CAEXPO 2017: Mau Naik Tranportasi Apa di Nanning?

Sebagai ibukota Provinsi Guangxi, Nanning memang tidak semoderen Beijing atau Shanghai tapi tetap menawarkan pesona tersendiri.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 14 September 2017  |  16:58 WIB
Transportasi di Nanning. - .Bisnis/Annisa Margrit

 

Bisnis.com, NANNING--Sebagai ibukota Provinsi Guangxi, Nanning memang tidak semoderen Beijing atau Shanghai tapi tetap menawarkan pesona tersendiri.

Lokasinya yang berada di China bagian selatan membuatnya memiliki iklim yang relatif lebih hangat dibandingkan daerah China lainnya. Oleh karena itu, banyak sekali taman yang tersebar di kota ini. Bahkan, Nanning disebut sebagai Green City.

Meski keterbatasan bahasa seringkali menjadi kendala bagi wisatawan asing yang tidak bisa berbahasa Mandarin dalam mencari jalan ke lokasi tujuan, tapi banyak sekali transportasi publik yang dapat digunakan di Nanning. Bus menghubungkan berbagai distrik di kota itu, di mana tarifnya rata-rata 2 yuan atau sekitar Rp4.000. Taksi juga dapat ditemukan dengan mudah dan tarifnya mulai dari 9 yuan atau sekitar Rp18.000.

Selain bus dan taksi, masyarakatnya biasa memakai layanan kereta bawah tanah (subway) yang disebut Nanning Rail Transit (NNRT). NNRT rencananya akan melayani 9 jalur, tapi saat ini baru 1 jalur yang beroperasi.

Sepeda motor listrik dan sepeda juga menjadi alat transportasi andalan. Warga Nanning juga senang sekali berjalan kaki. Apalagi, trotoarnya lebar dan banyak pohon besar yang menghalangi teriknya matahari.

Walaupun porsi makanan di kota ini besar, bahkan bisa mencukupi untuk 2 orang sekali makan, tapi karena penduduknya sering berjalan kaki maka hidupnya sangat sehat. Apalagi, makanan yang dimakan selalu mengandung sayuran.

Tetapi, hati-hati ketika berjalan karena sepeda motor listrik yang berseliweran di jalanan seringkali tidak mengeluarkan suara. Meskipun mereka biasanya mendahulukan pejalan kaki, tapi jangan sampai terlalu asyik berjalan dan tidak memperhatikan kondisi sekitar.

Para pengguna sepeda motor listrik ini pun sebagian besar tidak menggunakan helm. Ternyata, polisi setempat memang tidak mewajibkan penggunaan helm.

Hal menarik lainnya adalah China memiliki banyak sekali layanan penyewaan sepeda alias bike-sharing seperti Mobike, Ofo, dan Bluegogo. Di hampir semua jalan Nanning ada tempat khusus untuk memarkir sepeda.

Untuk Mobike, tarifnya 1 yuan (sekitar Rp2.000) per 30 menit. Calon pengguna cukup mencari sepeda yang dapat digunakan lewat GPS, memindai kode QR yang ada di sepeda tersebut, dan tinggal menggunakannya. Jika sudah selesai, sepeda dapat diparkir di tempat yang sudah disediakan lalu kunci secara manual. Ketika perjalanan berakhir, pembayaran sudah otomatis terjadi lewat aplikasi.

Ofo dan jasa penyewaan sepeda lainnya menggunakan sistem yang sama. Dalam proses pembayaran, aplikasi-aplikasi itu biasanya bekerja sama dengan WeChat dan Alipay. Sehingga, tagihan pembayaran langsung masuk ke akun WeChat atau Alipay yang digunakan.

Bisa dibilang aplikasi bike-sharing ini semacam Uber, Gojek, dan Grab di Indonesia. Bedanya, yang satu dapat berjalan karena ada mesin dan yang satunya digerakkan secara manual. 

Tag : china
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top