Proyeksi Kebutuhan Meningkat, Industri Baja Butuh Investasi Baru

Seiring dengan proyeksi kebutuhan baja yang meningkat, investasi di industri baja dalam negeri sangat dibutuhkan, tidak hanya untuk memnuhi kebutuhan baja tetapi juga menambah penerimaan negara bertambah.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 14 September 2017  |  17:45 WIB
Pabrik baja di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China - Reuters/William Hong

Bisnis.com, JAKARTA - Seiring dengan proyeksi kebutuhan baja yang meningkat, investasi di industri baja dalam negeri sangat dibutuhkan, tidak hanya untuk memnuhi kebutuhan baja tetapi juga menambah penerimaan negara bertambah.

Basso Datu Makahanap, Standard & Certification Committee The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), mengatakan sepanjang tahun lalu konsumsi baja tercatat sebesar 12,7 juta ton. Produsen dalam negeri hanya mampu memenuhi kebutuhan crude steel sebesar 6,8 juta ton, sehingga sisanya harus diimpor.

Dengan kebijakan pemerintah yang saat ini fokus dalam pembangunan infrastruktur, permintaan baja hingga 2025 diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 21,4 juta ton.

“Konsumsi baja yang terus meningkat ini menjadi pasar yang menarik, kalau diisi oleh produsen lokal, manfaat multiplier effect akan dirasakan semua stake holder. Kalau diisi oleh impor, manfaatnya akan diambil oleh negara eksportir,” ujarnya di Jakarta, Kamis (14/9/2017).

Multiplier effect dari industri baja tidak hanya dari sisi penyerapan tenaga kerja, tetapi juga dari sisi penerimaan pajak negara. Basso menuturkan apabila tidak ada investasi baru, untuk memenuhi kebutuhan baja pada 2020 sebesar 20 juta ton, Indonesia diperkirakan menghabiskan US$4 miliar per tahun untuk mengimpor baja.

Lebih jauh, Basso mengatakan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah akan menjadi potensi besar. Pasalnya, sektor konstruksi menjadi penyerap utama baja dengan persentase konsumsi sebesar 78% dibandingkan keseluruhan. Sektor transportasi menyerap 8% baja, disusul sektor migas dan permesinan masing-masing sebesar 7% dan 4%.

“Kunci utama industri baja nasional adalah sektor konstruksi, sebaliknya sektor kontruksi tidak akan bisa bergerak tanpa baja karena baja merupakan komponen utama konstruksi,” katanya.

Adapun, untuk bisa menarik investor di industri baja, Basso menyatakan diperlukan dukungan dari pemerintah, seperti adanya regulasi kemudahan berinvestasi. Selain itu, industri baja yang tangguh juga memerlukan kepastian dalam supply chain, kualitas infrastruktur, serta model investasi.

Tag : industri baja
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top