PT Nichias Rockwool Indonesia Bidik Pasar Domestik

PT Nichias Rockwool Indonesia masih mengandalkan pasar domestik sebagai target utama penjualan karena memiliki potensi yang tinggi jika dilihat dari pertumbuhan industri Indonesia.
Regi Yanuar Widhia Dinnata
Regi Yanuar Widhia Dinnata - Bisnis.com 15 September 2017  |  09:27 WIB
Nichias - Ilustrasi

Bisnis.com, KARAWANG – PT Nichias Rockwool Indonesia masih mengandalkan pasar domestik sebagai target utama penjualan karena memiliki potensi yang tinggi jika dilihat dari pertumbuhan industri Indonesia.

Ivan Kuntara, Managing Director PT Nichias Rockwool Indonesia, menyampaikan porsi ekspor produk rock wool dari perusahaan masih terbilang sedikit. Produsen rock wool ini masih mengincar sebanyak 80% penjualan dari dalam negeri dan 20% sisa porsi tersebut dipersiapkan untuk pasar ekpsor.

“Pasar domestik masih menjanjikan jika dilihat dari pertumbuhan konsumsi rock wool per tahun selalu meningkat sekitar 10%-15%,” kata Ivan kepada Bisnis, Kamis (14/9/2017).‎

Menurutnya, dari jumlah kebutuhan nasional perusahaan ini dapat menyuplai sebanyak 50% komoditas rock wool. Kendati demikian, perusahaan terus berusaha berekspansi bisnis dengan meningkatkan produksi mencapai 35.000 ton per tahun, jauh dari kebutuhan nasional yang hanya mencapai 17.500 ton per tahun.

“Investasi ini melihat kebutuhan pasar seperti industri yang terus meningkat dalam menggunakan rock wool sebagai pengganti komoditas serupa [glass wool],” imbuhnya.

Target pemasaran dari komoditas rock wool dipasarkan kepada pabrik yang membutuhkan isolasi penahan panas dan tahan api yang bisa digunakan untuk atap atau mesin. Hal ini ditunjang dengan kemampuan rock wool untuk menahan suhu pada rentan -10 derajat celcius sampai dengan 750 derajat celcius.

Menurutnya, salah satu target potensial lain adalah di bidang properti seperti apartemen dan hotel untuk menahan kedap suara yang dihasilkan dari luar maupun dalam hunian. “Bandara dan bioskop juga memesan rock wool kepada kami untuk mereduksi suara yang dihasilkan oleh pesawat atau teater sinema,” imbuhnya.

Harga dari komoditas rock wool berada pada kisaran US$2000-U$S2500 per ton. Selain itu, rock wool yang membutuhkan penanganan khusus dipatok dengan harga US$5000 per ton.

Adapun, rock wool dipergunakan juga untuk kebutuhan agriculture. Kandungan ph yang dimiliki oleh rock wool dapat membantu tanaman bisa hidup di dalam komoditas tersebut tanpa membutuhkan tanah.

“Kami juga khusus membuat untuk perkapalan guna mengisolasi panas yang ada di mesin agar tidak menyebar ke kabin,” katanya.

Dia menambahkan jika potensi bagi rock wool di Indonesia masih cukup besar. Hal ini didukung oleh proyek pemerintah untuk membangun pembangkit listrik sebanyak 35.000 MW, perbaikan infrastruktur, pertumbuhan properti, dan pembangunan bandara.

“Selama 5 tahun terakhir Indonesia dipilih sebagai basis industri serta penjualan di Asia Tenggara. Setahun ini kami menghabiskan Rp1 triliun untuk berinvestasi di pasar nasional,” katanya.

Rock wool adalah serat pintal anorganik yang terbuat dari mineral atau batuan alami. Pembuatan rock wool dengan cara melelehkan bahan baku mineral pada suhu tinggi kemudian dicampur resin dan dihembuskan dengan tekanan tertentu sehingga menghasilkan serat yang dinamakan rock wool.

Tag : manufaktur
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top