Pemerintah Ulur Lagi Lelang Blok Migas

Batas waktu pengambilan dokumen lelang reguler dan penawaran langsung blok minyak dan gas bumi tahun 2017 kembali diperpanjang karena penyesuaian ketentuan fiskal dalam gross split.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 15 September 2017  |  18:30 WIB
Blok Mahakam - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Batas waktu pengambilan dokumen lelang reguler dan penawaran langsung blok minyak dan gas bumi tahun 2017 kembali diperpanjang karena penyesuaian ketentuan fiskal dalam gross split.

Seperti diketahui, pada kontrak bagi hasil kotor yang diperkenalkan sejak akhir tahun lalu, pemerintah menambah bobot split dan variabel baru yang bisa meningkatkan keekonomian. Selain itu, tambahan split pun didapatkan di fase-fase awal pengembangan ketika kontraktor belum bisa menikmati hasil produksi. Kemudian, ruang tambahan bagi hasil atau split kontraktor dari diskresi menteri pun tak lagi dibatasi sebesar 5%.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial mengatakan pihaknya kini kembali memperpanjang batas pengambilan dokumen lelang blok migas konvensional dan nonkonvensional hingga 20 November 2017. Sementara, untuk batas pengembalian dokumen 27 November 2017.

Adapun, awalnya, pemerintah menetapkan awal Juli sebagai batas akses dokumen dan pengembalian dokumen. Namun, kemudian diperpanjang karena belum selesainya beleid yang mengatur perpajakan gross split.

Pemerintah merevisi batas akses dokumen menjadi 9 Agustus dan diubah lagi menjadi 11 September.

Belakangan pemerintah mengeset ulang bobot bagi hasil yang bisa didapat kontraktor melalui Peraturan Menteri No.52/2017 yang menyempurnakan Peraturan Menteri No.8/2017 yang terbit tujuh bulan sebelumnya.

Atas pertimbangan tersebut, tutur Ego, pemerintah memberikan waktu kepada kontraktor untuk menghitung keekonomian pengembangan blok migas melalui ketentuan fiskal yang baru.

\"Harus dikasih waktu yang cukup untuk mendalami Permen (Peraturan Menteri) yang baru,\" ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (15/9/2017).

Tahun ini, pemerintah menawarkan 15 wilayah kerja yang terdiri dari 10 blok migas konvensional dan 5 blok migas nonkonvensional. Adapun, tujuh blok migas konvensional yang ditawarkan melalui penawaran langsung yakni, Andaman I, Lepas Pantai Aceh; Andaman II, Lepas Pantai Aceh; South Tuna, Lepas Pantai Natuna; Merak Lampung, Lepas Pantai dan Daratan Banten-Lampung; Pekawai, Lepas Pantai Kalimantan Timur; West Yamdena, Lepas Pantai dan Daratan Maluku dan Kasuri III, Daratan Papua Barat.

Sementara itu, dua blok migas konvensional yang ditawarkan melalui lelang regular yaitu, Tongkol, Lepas Pantai Natuna; East Tanimbar, Lepas Pantai Maluku dan Mamberamo, Daratan dan Lepas Pantai Papua.

Untuk blok migas nonkonvensional yang ditawarkan melalui penawaran langsung yaitu MNK Jambi I, Onshore Jambi (Shale Hydrocarbon); MNK Jambi II, Onshore Jambi & Sumatera Selatan (Shale Hydrocarbon); GMB West Air Komering, Onshore Sumatera Selatan (Coal Bed Methane/CBM)

Kemudian, blok migas nonkonvensional yang ditawarkan melalui lelang reguler di antaranya GMB Raja, Onshore Sumatera Selatan (CBM) dan GMB Bungamas, Onshore Sumatera Selatan (CBM).

Saat ini, ujar Ego, terdapat 19 dokumen yang diakses dari 10 blok migas konvensional yang ditawarkan. Namun, dia tak menyebut secara detail 19 dokumen itu merujuk pada blok mana saja.

Sejak masa pengambilan dokumen lelang dibuka akhir Mei 2017 hingga Juli, tercatat dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), lima dokumen di Blok Andaman II dan dua dokumen di Blok East Tanimbar. Sisanya, masing-masing satu dokumen dari Blok Mamberamo, Tongkol, West Yamdena, Pekawai, dan Andaman I.

Lelang blok migas menjadi penting karena jumlah blok migas yang beroperasi terus menurun. Dari data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) semester I/2017, jumlah blok migas sebanyak 277. Bila dibandingkan, jumlah ini lebih sedikit dari 2012 dengan 308 blok beroperasi, 2013 321 blok, 2014 dengan 318 blok, 2015 dengan 312 blok serta 2016 sebanyak 283 blok.

Di sisi lain, dari 2017 hingga 2025 terdapat sekitar 30 blok yang akan habis masa kontraknya.

\"Status terakhir untuk lelang 10 blok migas konvensional, sudah 19 bid dokumen yang diakses,\" katanya.

Tag : blok migas
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top