Ini Strategi Blibli.com Kembangkan E-Commerce

Tiga faktor yang harus diperhatikan agar e-commerce dapat berkembang adalah selection, pricing, dan sustainibility.
Agne Yasa
Agne Yasa - Bisnis.com 17 September 2017  |  14:33 WIB
CEO Blibli.com Kusumo Martanto - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Disrupsi bisnis akibat perkembangan teknologi digital yang pesat tidak hanya dialami oleh perusahaan tradisional. Perusahaan berbasis digital seperti Blibli.com juga terus berinovasi agar tidak tertinggal perkembangan teknologi.

Lisa Widodo, Vice President of Operations and Product Management Blibli.com mengatakan berbagai kemudahan yang saat ini tersedia bagi perusahaan dalam mengembangan e-commerce, belum tersedia saat Blibli.com mulai dikembangkan pada 2009 dan meluncur pada 2011.

Saat itu, infrastruktur ekosistem e-commerce belum sematang sekarang. Namun, keyakinan atas peran teknologi mendorong pendiri Blibli.com menciptakan bisnis dengan visi masa depan.

Lisa mengatakan terdapat tiga faktor yang harus diperhatikan agar e-commerce dapat berkembang dan berkelanjutan termasuk dalam meningkatkan pendapat dan pangsa pasar, yaitu selection, pricing, dan sustainibility.

Faktor selection adalah kemampuan platform menyediakan variasi dan kuantitas produk. Blibli.com memiliki konsep business to consumer (B2C) dan menggaet brand yang ingin membangun channel online. Perusahaan juga mengembangkan gudang dan membuat jalur distribusi atau rantai pasok sebagai penunjang platform.

Kemudian terkait pricing, Blibli.com tidak bisa menghindari persaingan bisnis e-commerce yang semakin sengit.. Untuk itu, pihaknya menciptakan beberapa kolaborasi dengan pemasok dan partner seperti bank untuk program promosi.

Faktor sustainability coba dicapai lewat pelayanan. Blibli.com selalu menempatkan konsumen sebagai titik fokus utama, bahkan satu-satunya fokus..

"Caranya sebagai platform, e-commerce player company di ekosistem Indonesia, menciptakan servis macam apa yang dapat diberikan ke pelanggan," katanya dalam acara Metrodata CxO Forum dalam diskusi Transformation to Digital Age, beberapa waktu lalu.

Lisa mengatakan faktor laba bukan suatu yang jadi fokus pembicaraan dalam bisnis e-commerce. Komposisi industri ini pun masih diperdebatkan, ada yang mengatakan penetrasi e-commerce di Indonesia baru 1%-2%. Secara global saja, penjualan lewat e-commerce baru sekitar 10% dari total transaksi perdagangan dunia.

Menurutnya, upaya Blibli.com mengubah perilaku konsumen dan memberikan pelayanan terbaik bukan cuma berorientasi profit. Lisa menilai  yang terjadi saat ini para pemain digital jadi salah kaprah dengan diskon dan harga yang membuat secara ekosistem tidak sehat.

"Tidak sehat dan harmfull, sampai kapan mau fund raising, sampai kapan orang mau percaya, gain dari investor juga harus dijaga," katanya.

Lisa mengatakan Blibli.com saat ini berusaha melakukan penataan dalam berbagai aspek, termasuk kesiapan infrastruktur teknologi dan distribusi. Blibli.com terus mencari aliran pendapatan baru yang berpotensi dikembangkan dan digarap. 

"Ketika waktu datang Indonesia untuk profit Dari Blibli, kami sudah siap," kata Lisa.

 

Tag : e-commerce
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top