Soal Investasi Perfilman, Ini Pemaparan BPI

Ketua Bidang Advokasi Kebijakan Badan Perfilman Indonesia (BPI) Alex Sihar mengatakan kondisi industri film belum memiliki struktur yang jelas sehingga hal ini berdampak pada perkembangan industrinya.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 18 September 2017  |  22:09 WIB
Ilustrasi. - .gradunion.cam.ac

Bisnis.com, JAKARTA- Ketua Bidang Advokasi Kebijakan Badan Perfilman Indonesia (BPI) Alex Sihar mengatakan kondisi industri film belum memiliki struktur yang jelas sehingga hal ini berdampak pada perkembangan industrinya.

“Industri ini belum memiliki struktur yang jelas. Sejalan dengan pembukaan keran investasi [Daftar Negatif Investasi/DNI], justru infrastruktur perfilman belum menunjukkan perubahan berarti. Alhasil, banyak investor yang ingin masuk menjadi ragu,” ujarnya di Jakarta, Senin (18/9).

Jika dilihat dari data BPI, industri perfilman nasional mampu menghasilkan 120 judul film panjang dan 250 pendek pada tahun lalu. Bahkan, beberapa film mampu mengumpulkan penonton hingga 1 juta orang.
Tapi, kontribusinya industri perfilman terhadap pertumbuhan ekonomi masih minim yakni 16% dengan rata-rata pertumbuhan industrinya mencapai 6%-7% tiap tahunnya.

Selain itu, dia mengungkapkan minimnya ketersediaan data mengenai industri ini juga membuat para investor yang berminat masuk ke industri film menjadi ragu. Peran data yang akurat mengenai peta industri perfilman di Indonesia cukup penting untuk menjaid acuan investor memandang prospek investasi ke depannya.

Skema investasi di industri perfilman diakuinya sangat berbeda dengan investasi kebanyakan karena tipe bisnisnya tergolong industri kreatif yang bergantung pada konten dan promosi. Oleh karena itu, skema kentungan (return) investasi di sektor ini juga berbeda sehingga dibutuhkan pemahaman kepada investor yang tertarik.

Jika dirinci, pendapatan film tidak hanya berasal dari pemutaran film di bioskop saja, tetapi juga bisa mencakup pemutaran film di pesawat, dan resort. Selain itu, pendapatan bisa berasal dari pembelian hak cipta ke stasiun televisi nasional, penjualan cd, penjualan merchandise.

“Investor film juga bermacam, bisa berasal dari perusahaan film, angel investor, brand managers, filantropi, pemilik stasiun televisi nasional, hingga pemerintah. Semua kemungkinan ini jarus dijajaki karena film itu mencakup banyak aspek ekonomi,” tambahnya.

Tag : Film
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top