Produktivitas Garam Rakyat Masih Belum Normal

Produktivitas garam rakyat masih belum normal kendati cuaca lebih terik dibanding tahun lalu yang dilanda La Nina. Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI) mencatat panen rata-rata masih di bawah 1 ton per hektare per hari.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 18 September 2017  |  20:29 WIB
Petani memanen garam di Desa Kedungmalang, Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (19/8). - ANTARA/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA -- Produktivitas garam rakyat masih belum normal kendati cuaca lebih terik dibanding tahun lalu yang dilanda La Nina. Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI) mencatat panen rata-rata masih di bawah 1 ton per hektare per hari.

Ketua APGRI Jakfar Sodikin menyebutkan produktivitas garam petani saat ini berkisar 0,5-0,7 ton per ha per hari, padahal biasanya pada September --saat panen raya garam dimulai-- rendemen harusnya mencapai 1 ton per ha per hari.

"Tanah tambak yang terendam air agak lama pada 2016 menjadi kurang 'panas' sehingga air yang dijemur kurang cepat menjadi tinggi derajat Be-nya [derajat kepekatan air laut]," katanya saat dihubungi, Senin (18/9/2017).

Berdasarkan data APGRI, produksi garam rakyat (di luar PT Garam) hingga hari ini 475.000 ton. Khusus Jawa Timur sebagai sentra garam terbesar nasional, produksinya 230.000 ton.

Karena kondisi itu, APGRI memperkirakan produksi garam rakyat tahun ini tidak akan sebaik 2015 yang menorehkan surplus garam konsumsi hingga 883.454 ton. Asosiasi memprediksi akan terjadi kekurangan stok garam pada Januari 2018.

Kondisi itu sebelumnya sempat diperkirakan oleh PT Garam (Persero). BUMN pergaraman itu memperkirakan shortage hingga 525.442 ton karena produksi garam nasional tahun ini 1,3 juta ton, sedangkan kebutuhan garam konsumsi rumah tangga, industri aneka pangan, dan industri pengasinan ikan mencapai 1,82 juta ton.

Kekurangan suplai itu telah memperhitungkan susut dalam pemrosesan garam nasional sebanyak 230.000 ton dan rencana impor bahan baku garam konsumsi 226.000 ton (Bisnis, 5/9/2017).

Jakfar mengungkap hingga kini belum ada pembelian garam rakyat oleh PT Garam. Padahal, penyerapan oleh perusahaan pelat merah itu sangat diharapkan untuk mengamankan stok pada awal 2018, di samping menahan harga garam di tingkat petani tak turun di bawah Rp2.500 per kg.

APGRI mencatat harga garam di tingkat petani Rp1.800 per kg untuk kualitas 1, Rp1.500-Rp1.600 per kg untuk kualitas 2, dan Rp1.400 per kg untuk kualitas 3.

Menurut Jakfar, pembelian sejauh ini baru dilakukan oleh pabrik pengolah garam. Mereka membeli dalam jumlah besar yang sebagian untuk langsung diolah, sedangkan selebihnya disimpan untuk mengantisipasi stok awal tahun depan.

"Saya sudah ingatkan PT Garam untuk menyerap. Apalagi, mereka masih punya PMN [penyertaan modal negara 2015] yang tersimpan di bank sekitar Rp200 miliar," kata Jakfar.

Tag : produksi garam, garam rakyat
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top