Transnusa Segera Datangkan 5 Pesawat Baru

TransNusa Air berencana menambah lima pesawat baru hingga 2018 guna meningkatkan pangsa pasar penerbangan domestik, khususnya di wilayah Indonesia timur.
Ringkang Gumiwang
Ringkang Gumiwang - Bisnis.com 19 September 2017  |  16:27 WIB
Turis asal China mengunjungi Yogyakarta. TransNusa - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - TransNusa Air berencana menambah lima pesawat baru hingga 2018 guna meningkatkan pangsa pasar penerbangan domestik, khususnya di wilayah Indonesia timur.

Managing Director PT TransNusa Aviation Mandiri Bayu Sutanto mengatakan Transnusa baru mendatangkan satu pesawat ATR-72 pada tahun berjalan ini. Nanti, dua pesawat ATR baru lainnya datang bertahap pada Oktober dan Desember 2017.

“Setelah itu, kami akan mendatangkan lagi tiga pesawat baru pada 2018. Pesawatnya masih tetap ATR karena memang pasar yang kami garap ini penerbangan regional,” katanya di Jakarta pada Selasa (19/9/2017).

Bayu menilai pangsa pasar penerbangan regional masih terbuka, khususnya di Indonesia timur. Rencananya, TransNusa akan mengembangkan lebih banyak lagi rute-rute penerbangan dari Sulawesi ke Nusa Tenggara, dan sebaliknya.

TransNusa sudah menghubungkan sejumlah daerah di Sulawesi seperti Makassar, Tana Toraja, dan Sorowako. Adapun, kota-kota di Nusa Tenggara yang sudah dilayani maskapai di antaranya seperti Kupang, Alor, Maumere, Waingapu, Larantuka, dan Ruteng.

“Kami akan terus fokus mengembangkan penerbangan domestik atau regional. Dalam waktu dekat kami mengincar kota-kota di Sulawesi. Tentunya ini dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan jumlah armada kami,” tuturnya.

Saat ini, jumlah armada TransNusa telah mencapai 10 pesawat yang terdiri dari delapan pesawat ATR dan dua Fokker. Namun, dua pesawat Fokker tersebut bakal dijual dan diganti dengan ATR pada tahun ini.

Di sisi lain, TransNusa juga berencana melayani penerbangan internasional dari dan ke China. “Kami mau coba garap karena pasarnya itu besar sekali, terlihat dari jumlah turisnya. Kami sekarang masih planning. Paling cepat 2 tahun lagi. Selain itu, proses mendapatkan izin internasional dan bilateralnya juga lumayan panjang,” ujarnya.

Untuk merealisasikan rencana itu, Bayu mengungkapkan TransNusa juga membuka peluang kerja sama dengan maskapai lainnya, yakni berupa aliansi atau codeshare. Menurutnya, kerja sama codeshare sudah biasa di dunia bisnis maskapai.

Asal tahu saja, skema aliansi maskapai di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan, misalnya aliansi yang dibentuk Sriwijaya Air dengan TransNusa Aviation. Dari aliansi tersebut, kedua maskapai mengklaim tingkat keterisian kursi pesawat menjadi lebih optimal.

Sementara itu, Direktur Arista Indonesia Aviation Center (AIAC) Arista Atmadjati menuturkan permintaan jasa angkutan udara di pelosok daerah memang sudah jauh lebih besar ketimbang sebelumnya.

“Teman-teman dari agen travel itu banyak yang minta dicarikan pesawat baling-baling, untuk melayani penerbangan dari Bali pelosok daerah, seperti Labuan Bajo, Kupang, dan lain sebagainya. Namun ternyata tiap hari sudah penuh,” ujarnya.

Tag : maskapai penerbangan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top