Pemerintah Diminta Konsisten Serap Gula Petani

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) meminta pemerintah konsisten menyerap gula milik petani sesuai hasil rapat koordinasi terbatas pada 15 Agustus 2017.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 19 September 2017  |  00:41 WIB
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur. - Antara/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) meminta pemerintah konsisten menyerap gula milik petani sesuai hasil rapat koordinasi terbatas pada 15 Agustus 2017.

Dorongan ini menyusul langkah sejumlah pihak yang dinilai mengatasnamakan petani tebu melaporkan dugaan monopoli oleh Bulog ke KPPU.

Hasil rapat koordinasi terbatas terkait kebijakan gula diantaranya, gula ditetapkan sebagai komoditas pertanian yang tidak dikenakan PPN mulai dari produsen hingga konsumen, gula milik petani maupun milik PG BUMN diserap oleh Bulog dengan harga Rp9.700 per kg, gula yang diserap Bulog adalah gula yang memenuhi standar SNI, dan penjualan gula curah ke pasar tradisional hanya dapat dilakukan oleh Bulog.

Ketua Umum Dewan Pembina DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil menyebut sekitar 300.000 ton gula petani yang hingga kini belum diserap oleh Bulog, meski penugasan telah diberikan sejak 16 Agustus 2017. Sementara, saat ini petani tebu dihadapkan pada kesulitan modal untuk musim tanam berikutnya.

Oleh karena itu, dia meminta pemerintah melalui Bulog agar segera menyerap gula petani. Apalagi, saat ini sedang musim panen puncak.

Jangan sampai, ujarnya, harga gula petani kembali jatuh di bawah Rp9.000 per kg seperti sempat terjadi beberapa waktu lalu.

Arum Sabil menyayangkan langkah sejumlah pihak yang mengatasnamakan petani tebu melaporkan dugaan monopoli oleh Bulog ke KPPU, yang dikhawatirkan membuat pemerintah ragu menyerap gula petani.

Sementara, rakortas pada pertengahan Agustus lalu merupakan respon pemerintah pada harga gula petani yang jatuh ketika itu. "Petani tebu sekarang kesulitan keuangan. Maka seharusnya pemerintah tidak menahan diri dan tidak ragu untuk menyerap gula petani," kata dia pada Senin (18/9/2017).

Dia mengatakan APTRI mengapresiasi langkah pemerintah menjaga harga di tingkat petani tebu melalui penugasan kepada Bulog. Dengan demikian, gula petani memperoleh harga yang layak.

APTRI pun memahami keputusan bahwa hanya Bulog yang dapat melakukan penjualan gula curah di pasar tradisional. Sebab, langkah ini sebagai upaya menjaga harga di tingkat konsumen. "Pemerintah harus konsisten dengan apa yang sudah disepakati."

Direktur Utama RNI Didik Prasetyo menyampaikan total produksi gula RNI sejak musim giling 2017 pada Juni hingga 14 September sebesar 202.000 ton.

Dari angka ini, sebesar 71.629 ton merupakan gula milik RNI dan belum terserap oleh Bulog. Sementara sisanya sebesar 130.371 ton merupakan gula milik petani.

Dia mengatakan tertundanya penyerapan gula milik RNI oleh Bulog menganggu rencana musim tanam berikutnya. Untuk itu, RNI meminta penjelasan Bulog terkait penyerapan gula milik PG BUMN ini. "Tentu cash flow agak terganggu. Terpaksa harus pinjam bank untuk modal tanam berikutnya."

Didik menyampaikan RNI akan memaksimalkan penjualan gula dalam kemasan 1 kg ke ritel melalui anak perusahaan PT Rajawali Nusindo. "Sebelumnya sudah ke ritel. Saat ini kami maksimalkan hingga memenuhi kapasitas 5.000 ton per bulan."

Direktur Komersial Perum Bulog Febriyanto menyampaikan rencananya pada Selasa (19/9/2017) akan rapat bersama PTPN dan RNI membahas percepatan penyerapan gula milik petani dan gula milik PG BUMN, kemudian dilanjutkan rapat pada Jumat (22/9/2017) bersama distributor gula.

Tag : gula
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top