Kebijakan Pangan Kementan Perbaiki Kinerja Perdagangan

Kebijakan pangan Kementerian Pertanian dinilai telah meningkatkan kinerja perdagangan komoditas pertanian, selain mendorong peningkatan produksi dan menjamin ketersediaan pangan.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 22 September 2017  |  22:15 WIB
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kiri) berbincang dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kanan) sebelum mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Bogor, Bogor, Jawa Barat, Senin (29/5). - Antara/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA -- Kebijakan pangan Kementerian Pertanian dinilai telah meningkatkan kinerja perdagangan komoditas pertanian, selain mendorong peningkatan produksi dan menjamin ketersediaan pangan.

Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan Suwandi melalui siaran pers, Jumat (22/9/2017), mengatakan perbaikan kinerja perdagangan komoditas pertanian terlihat dari neraca perdagangan.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor komoditas pertanian bulan Januari-Agustus mencapai US$ 22,2 miliar, sedangkan impor hanya US$11,2 miliar, sehingga surplus hampir US$11 miliar. Suwandi mengatakan surplus itu naik 101% dari periode yang sama tahun lalu yang hanya US$5,5 miliar.

“Dengan data ini, kebijakan Menteri Pertanian yang strategis, utamanya kebijakan pengendalian rekomendasi impor dan mendorong ekspor sudah on the right track. Ekspor kopi, karet, kelapa sawit, kelapa, pala, lada, kacang hijau, nanas, dan lainnya naik signifikan,” katanya dalam siaran pers itu.

Menurut Suwandi, sejak Januari-Agustus 2017, tidak ada impor beras medium, cabai segar, dan bawang merah konsumsi. Kementan pun berhasil meningkatkan produksi jagung sehingga impor komoditas itu tahun lalu turun 62% dan sejak Januari hingga Agustus 2017 tidak ada impor jagung pakan ternak.

“Perlu dicermati, impor beras awal 2016 merupakan luncuran dari sebagian kontrak impor beras Bulog 2015. Kemudian pada 2017, yang diimpor bukanlah beras konsumsi jenis medium, tetapi jenis menir sebagai bahan industri,” katanya.

Mengutip data BPS, Suwandi menyebutkan impor beras Januari-Agustus 191.000 ton. Impor itu bukan beras medium, melainkan beras pecah 100% (menir) sebanyak 187.000 ton dan sisanya berupa benih dan beras termasuk beras khusus.

"Ekspor-impor beras khusus jenis tertentu ini wajar dalam perdagangan dunia karena tidak diproduksi di dalam negeri," ujarnya.

Sementara itu, sambungnya, jagung yang diimpor tahun ini 290.000 ton bukan jagung pipil untuk kebutuhan pakan ternak, melainkan untuk bahan pemanis sweetener dan gluten pada industri makanan dan minuman.

"Ke depan, Kementan sudah meminta kepada kementerian terkait bahwa impor bahan baku penolong industri yang berasal dari padi, jagung, kedelai, dan ubi kayu diatur melalui rekomendasi dari Kementan. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi petani dan produk pangan yang menguasai hajat hidup orang banyak sehingga petani lebih sejahtera," kata Suwandi.

Tag : pertanian
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top