Sulut Galakkan Gerakan Makan Tanpa Nasi

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menyatakan akan terus menggalakkan gerakan makan tanpa nasi (Gentanasi) di Bumi Nyiur Melambai, demi mengurangi ketergantungan terhadap komoditas beras yang memang bukan andalan Sulut.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 23 September 2017  |  06:27 WIB
Sagu, sumber pangan dan energi. - Ilustrasi/Antara

Bisnis.com, MANADO - Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) akan terus menggalakkan Gerakan Makan Tanpa Nasi (Gentanasi) di Bumi Nyiur Melambai, demi mengurangi ketergantungan terhadap komoditas beras yang memang bukan andalan Sulut.

Gentanasi adalah bukan berarti seseorang itu tidak makan nasi sama sekali, melainkan dalam satu minggu sekali setiap waktu makan, mengganti nasi sebagai bahan utama dengan pangan lokal di Sulut.

Inilah yang mendasari Pemprov Sulut dan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar kembali Gentanasi di Graha Bumi Beringin, Manado, Jumat (22/9/2017).

"Saya setuju dengan Gentanasi. Jika seluruh keluarga di Sulut dalam seminggu mengganti sekali waktu makan nasi dalam sehari dengan pangan lain, pasti banyak manfaatnya termasuk kesehatan yang lebih baik," kata Wakil Gubernur Sulut Steven O.E Kandouw.

Gentanasi juga merupakan program yang berdampak positif dalam mengurangi ketergantungan masyakat terhadap nasi.

“Melalui Gentanasi, ketergantungan masyarakat terhadap beras bisa dikurangi, karena di Sulut, sumber pangan pokoknya berasal dari umbi-umbian. Untuk itu program ini harus terus digencarkan,” katanya.

 Kandouw menerangkan, salah satu kearifan lokal yang mendukung penganekaragaman pangan, adalah pisang Goroho, yaitu pisang khas sebagai sumber makanan masyarakat Minahasa sejak zaman dahulu.

Selain itu, di Kepulauan Sangihe terdapat sagu, yang dibiarkan tumbuh tanpa perawatan dan perhatian, ternyata merupakan makanan lezat dengan kandungan gizi cukup tinggi dan bisa dijadikan sebagai makanan bergizi.

Adapun di Minahasa dan Minahasa Selatan terdapat pangan lokal jagung yang diolah menjadi beras jagung dan tepung jagung yang banyak dikonsumsi masyarakat.

Di tempat yang sama, Ketua TP-PKK Sulut, Rita Maya Dondokambey-Tamuntuan menegaskan pentingnya kualitas konsumsi pangan dan gizi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Sulut.

"Kita harus berupaya menyediakan pangan dalam jumlah dan keragaman yang cukup, dengan kualitas yang layak dan tersedia sepanjang waktu. Ini harus dilaksanakan karena pola konsumsi pangan penduduk Sulut saat ini masih kurang beragam dari jenis pangan dan keseimbangan gizinya," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penganekaragaman Pangan dan Keamanan Pangan Kementerian Pertanian Tri Agustin Satriani yang mewakili Kepala Badan Ketahanan Pangan mengatakan, upaya percepatan diversifikasi pangan sangat penting dilaksanakan agar masyarakat mampu mengurangi konsumsi beras dan terigu.

“Upaya menurunkan konsumsi beras dan terigu harus diikuti dengan penyediaan pangan karbohidrat dari pangan lokal seperti sagu, singkong, ubi jalar, sukun, ganyong, pisang dan sebagainya," katanya.

 

Tag : sulut
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top