GPMT Tingkatkan Serapan Jagung Lokal

Gabungan Perusahaan Makanan Ternak memaksimalkan penyerapan jagung lokal sebagai bahan baku utama pakan ternak.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 25 September 2017  |  19:14 WIB
Petani memanen jagung untuk pakan ternak ayam di Dusun Guha, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Selasa (18/7). - ANTARA/Adeng Bustomi

Bisnis.com,JAKARTA - Gabungan Perusahaan Makanan Ternak memaksimalkan penyerapan jagung lokal sebagai bahan baku utama pakan ternak.

Sekretaris GPMT Hudian menyampaikan industri pakan mendukung kebijakan pemerintah yang mencanangkan 2017 sebagai tahun swasembada jagung. Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya impor jagung untuk bahan pakan dari 3,16 juta ton pada 2014 menjadi 2,74 juta ton pada 2015.

Impor jagung turun signifikan menjadi 884.000 ton pada 2016. "Pabrik pakan ternak sampai saat ini belum ada impor jagung untuk bahan pakan. Melalui pola kerjasama dengan pemerintah dalam melakukan penyerapan dan pembelian hasil panen jagung dari petani, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan jagung sebagai bahan pakan," kata Hudian, di Jakarta (25/9/2017).

Dia menambahkan impor gandum sebesar 200.000 ton yang tengah diusulkan industri pakan, digunakan sebagai salah satu komponen formula pakan karena tidak diproduksi di dalam negeri. "Ini bukan sebagai pengganti jagung," imbuhnya.

Pemasukan gandum sebesar 200.000 ton rencananya akan digunakan selama kurun waktu tiga bulan atau rata-rata 70.000 ton per bulan. "Penggunaan feed wheat tersebut dimaksudkan sebagai komponen improvement feed performance," kata dia.

Sekretaris Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasrullah mengatakan langkah Pemerintah mengendalikan impor jagung karena produksi jagung lokal menunjukkan peningkatan signifikan sehingga menjamin ketersediaan sebagai bahan pakan.

Realisasi tanam Januari – Juni 2017 menunjukkan terdapat potensi produksi 21,86 juta ton. Potensi produksi ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan pakan ternak selama 12 bulan. Kebutuhan bahan pakan ternak rata-rata 950.000 ton per bulan, terdiri dari 700.000 untuk industri pakan dan 250.000 untuk peternak mandiri.

Potensi ini masih ditambah realisasi tanam bulan Juli dan Agustus 2017 yang diperkirakan panen pada bulan Oktober-Desember 2017, sehingga terdapat surplus 6 juta ton.

Ketersediaan jagung sebagai bahan pakan juga dipastikan dari hasil monitoring dan evaluasi jagung oleh tim gabungan yang beranggotakan unsur-unsur dari Kemenko Perekonomian, Bulog, GPMT, dan unsur internal Kementerian Pertanian ke sentra jagung di 9 Provinsi. Sembilan provinsi ini yaitu Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita menjelaskan perlu peningkatan mutu dan keamanan, terutama pemenuhan persyaratan kadar air. Oleh karena itu, dalam penanganan pasca panen perlu didukung oleh penyediaaan silo dan dryer di sentra-sentra produksi.

"Selain itu, penanganan pascapanen ini juga akan meningkatkan efisiensi yang diharapkan mampu memperpendek rantai tata niaga jagung dari saat ini," kata dia.

Tag : pakan ternak
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top