PGN Minta Pasokan Hingga 60 MMscfd Gas Jambaran-Tiung Biru

Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk berharap bisa mendapatkan pasokan gas dari Lapangan Jambaran-Tiung Biru sekitar 60 juta kaki kubik per hari.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 26 September 2017  |  06:19 WIB
Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk Jobi Triananda Hasjim (ketiga kiri) bersama dengan Ketua PB Ikatan Sport Sepeda Indonesia Raja Sapta Oktohari (ketiga kanan) berbincang dengan atlet sepeda nasional, seusai acara pelepasan untuk berlaga di kejuaraan sepeda internasional Korea Selatan, Tour de DMZ, di Jakarta, Kamis (31/8). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, BOJONEGORO - PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk berharap bisa mendapatkan pasokan gas dari Lapangan Jambaran-Tiung Biru sekitar 60 juta kaki kubik per hari (million standard cubic per day/MMscfd).

Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk Jobi Triananda Hasjim mengaku pihaknya telah menyampaikan keinginannya untuk menyerap gas di Lapangan Jambaran-Tiung Biru.

Dia berharap bisa mendapatkan 50 MMscfd hingga 60 MMscfd yang akan didistribusikan kepada konsumen industri. Pasalnya, perseroan telah memiliki jaringan distribusi di Gresik, Probolinggo, Mojokerto dan Surabaya.

"Harapan kita ya 50, 60 kita siap karena jaringan kita ada dari Gresik sampai Probolinggo, Mojokerto ke Surabaya. Dari sisi infrastruktur kita siap selain untuk listrik ya," ujarnya di Bojonegoro, Senin (25/9/2017).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyebut PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk berminat untuk menyerap gas dari Lapangan Jambaran-Tiung Biru.

Dalam sambutannya saat menghadiri acara peletakan batu pertama Lapangan Jambaran-Tiung Biru di Bojonegoro, Senin (25/9/2017), Jonan menuturkan proyek tersebut diharapkan bisa memenuhi kebutuhan gas untuk sektor ketenagalistrikan dan industri di sekitar Jawa Timur.

Dengan kapasitas produksi hingga 330 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd), terdapat 172 MMscfd yang bisa dijual karena gas yang dihasilkan lapangan tersebut mengandung karbondioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S).

Sebelumnya, telah ditetapkan bahwa 100 MMscfd akan dialirkan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik dan 72 MMscfd untuk industri.

Jonan menyebut bila terdapat kenaikan permintaan, alokasi bisa saja diberikan. Salah satunya, ujar Jonan, PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Direktur Utama PGN Jobi Triananda Hasjim menyatakan ingin juga menyerap gas dari lapangan tersebut."Pak Jobi tanya, kalau ada sisa, boleh beli enggak? Ya boleh saja," ujarnya menirukan.

Adapun, dia berpesan bila akan menjual kembali gas, harganya harus kompetitif. Pasalnya, bila gas dijual ke industri dengan harga mahal, akan menurunkan daya saing industri pengguna gas.

Produksi gas pertama dari lapangan gas itu targetnya dimulai pada 2021. "Kalau dibeli, mau dijual harus kompetitif harganya," katanya.

Tag : pgn
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top