Penangkapan Rajungan Dikendalikan, Produksi Benih Dipacu

Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, Sulawesi Selatan, memacu produksi benih rajungan untuk kegiatan budidaya dan penebaran ke alam (restocking) seiring dengan pelarangan penangkapan dan ekspor rajungan kecil.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 27 September 2017  |  20:10 WIB
Nelayan menjual rajungan hasil tangkapannya ke pengepul di Pabean udik, Indramayu, Jawa Barat, Jumat (7/4). - Antara/Dedhez Anggara

Bisnis.com, JAKARTA -- Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, Sulawesi Selatan, meemacu produksi benih rajungan untuk kegiatan budidaya dan penebaran ke alam (restocking) seiring dengan pelarangan penangkapan dan ekspor rajungan kecil.

Kepala BPBAP Takalar Nono Hartono mengatakan instansinya telah mampu menghasilkan produksi massal benih rajungan. Dia menjelaskan beberapa tahun terakhir pihaknya melakukan rekayasa pembenihan rajungan dengan hasil memuaskan. Pada 2016, produksi benih rajungan BPBAP Takalar 126.400 ekor dan tahun ini ditarget 800.000 ekor benih.

“Keberhasilan ini, tentunya akan menjadi nilai tersendiri, bagaimana kita mengawal dan mengimplementasikan pesan Bu Menteri [Susi Pudjiastuti] untuk melakukan pemanfaatan sumber daya rajungan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan," kata Nono dalam keterangan resmi, Rabu (27/9/2017).

Dia menyampaikan, kegiatan budidaya memang telah lama dilakukan masyarakat, tetapi belum memenuhi kaidah budidaya yang baik.

Di samping itu, benih yang digunakan masih bergantung pada stok alam. Keberhasilan produksi massal benih diharapkan mampu menyuplai kebutuhan benih masyarakat. Rajungan hasil budidaya diharapkan memenuhi kebutuhan pasar tanpa melalui eksploitasi sepert saat ini.

“Tahun 2015 kami juga lakukan pendampingan teknologi perbenihan di UPTD [unit pelaksana teknis dinas] milik pemda dan diseminasi budidaya di sentra-sentra penghasil rajungan, seperti di Kalimantan Timur," tuturnya.

Menurut Nono, PT Kemilau Bintang Timur (KBT), salah satu perusahaan pengolah rajungan, menyatakan tertarik membudidayakan rajungan secara langsung di tambak. BPBAP dengan PT KBT sejak 2015 menyepakati perjanjian kerja sama untuk pengembangan budidaya rajungan dengan benih disuplai dari BPBAP Takalar.

Produksi rajungan PT KBT saat ini tidak lagi bergantung pada hasil tangkapan nelayan di laut.

Sementara itu, Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan restocking rajungan konsisten dilakukan di perairan yang telah mengalami overeksploitasi. Bahkan dirinya menempatkan restocking sebagai program prioritas ke depan untuk menjaga kelestarian.

“Restocking merupakan bentuk tanggung jawab dalam melindungi dan menjaga keragaman hayati sumber daya perikanan di Indonesia," tuturnya.

Hingga 2016, BPBAP Takalar telah melakukan restocking benih rajungan sebanyak 2,3 juta ekor yang tersebar di perairan Takalar, Maros, Barru, dan Pangkep. Restocking lanjutan akan dilakukan tahun ini sebanyak 450.000 ekor di tiga kabupaten yang sama.

Sebelumnya, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara juga telah melakukan kegiatan restocking benih rajungan sebanyak 200.000 ekor di tiga titik, yakni perairan Pulau Panjang dan perairan Jepara. Kegiatan diprakarsai oleh dua perusahaan yang bergerak di bidang usaha rajungan, yakni PT Kemilau Bintang Timur Cirebon dan Harbor Seafood USA.

Sebelumnya, untuk mengerem overeksploitasi, Menteri Susi Pudjiastuti menerbitkan Peraturan No 56/Permen-KP/2016 yang membatasi penangkapan dan ekspor rajungan. Rajungan yang boleh ditangkap dan diekspor harus dalam kondisi tidak bertelur dengan lebar karapas di atas 10 cm atau berat di atas 60 gram.

Tag : rajungan
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top