Produksi Stainless Steel Digenjot

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menargetkan Indonesia menjadi salah satu produsen baja tahan karat (stainless steel) terbesar di dunia. Kapasitas produksi stainless steel di dalam negeri diperkirakan mencapai 4 juta ton pada 2019.
N. Nuriman Jayabuana
N. Nuriman Jayabuana - Bisnis.com 28 September 2017  |  09:03 WIB
Ilustrasi - precioussteel.com.ph

Bisnis.com, JAKARTA -  Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menargetkan Indonesia menjadi salah satu produsen baja tahan karat (stainless steel) terbesar di dunia. Kapasitas produksi stainless steel di dalam negeri diperkirakan mencapai 4 juta ton pada 2019.

“Target itu akan dicapai dari pengembangan Kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah yang tahun ini menghasilkan stainless steel sebanyak dua juta ton,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu  (27/9/2017).

Menurutnya, kawasan tersebut mampu menyedot minat sejumlah investor asing yang bergerak pada bisnis pengolahan dan pemurnian (smelter) berbasis nikel.

Kawasan seluas 2.000 hektare tersebut dipersiapkan untuk menarik investasi senilai US$6 miliar atau setara Rp80 triliun. Investasi itu mampu menyerap sebanyak 26.000 tenaga kerja langsung dan 80.000 tenaga kerja tidak langsung pada 2019. Sebanyak 10 perusahaan sudah beroperasi secara komersial di dalam Kawasan Industri Morowali.

Kawasan industri tersebut nantinya juga bakal memproduksi baja karbon dengan kapasitas 3,5 juta ton per tahun. Pembangunan pabrik baja karbon itu bakal menelan investasi senilai US$980 juta. Proyeksi investasi tersebut bisa bertambah menjadi US$1,3 miliar bila menyertakan opsi pengembangan pembangkit listrik kepada investor.

Pabrik tersebut bakal dibangun PT Dexin Steel Indonesia, yaitu perusahaan patungan pabrikan baja China Delong Holding Limited bersama Shanghai Decent IMIP.

Perusahaan patungan tersebut tengah mengajukan izin pembangunan kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal. Pabrikan tersebut juga tengah mengajukan insentif tax holiday sebagai kompensasi penanaman modal dalam skala besar.

“Mereka akan memproduksi carbon steel berbasis blast furnace. Produk turunannya nanti sebagian untuk long product,” ujar Airlangga.

Penambahan kapasitas produksi baja di Morowali nantinya bakal mensubstitusi produk baja impor. Permintaan baja nasional pada tahun lalu mencapai 12,94 juta ton, sementara produksi lokal hanya sebesar 6,8 juta ton. Separuh permintaan lokal akhirnya mesti terpenuhi produk impor.

Airlangga menjelaskan kualitas baja karbon di dalam klaster baja Morowali nantinya tidak jauh dengan hasil produksi klaster baja Cilegon.

Klaster baja Cilegon merupakan kawasan industri baja terintergasi yang melibatkan pabrikan baja pelat merah Krakatau Steel, Posco asal Korea, dan Nippon Steel & Osaka Steel dari Jepang. Kapasitas produksi klaster baja Cilegon diperkirakan mencapai 10 juta ton pada 2025.

Airlangga optimistis kapasitas terpasang pabrikan baja di dalam negeri secara bertahap mampu memenuhi seluruh permintaan domestik.

Tag : industri baja
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top