Penuhi Kebutuhan Listrik, ASEAN Butuh Investasi US$500 Miliar

Semua negara di kawasan Asia Tenggara diperkirakan membutuhkan investasi hingga US$500 miliar untuk bisa memenuhi kebutuhan listrik pada 2035.nn
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 29 September 2017  |  14:10 WIB
Teknisi melakukan penggantian kabel listrik Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) di Surabaya, Kamis (28/9). - ANTARA/Didik Suhartono

Bisnis.com, JAKARTA - Semua negara di kawasan Asia Tenggara diperkirakan membutuhkan investasi hingga US$500 miliar untuk bisa memenuhi kebutuhan listrik pada 2035.

Analis Senior Gas dan Ketenagalistrikan Wood Mackenzie, Edi Saputra mengatakan Asia Tenggara menjadi kawasan dengan perekonomian terbesar dengan produk domestik bruto gabungan sebesar US$2,8 triliun sepanjang 2017. Sayangnya, beberapa negara seperti Indonesia, Vietnam, Filipina, Myanmar, Laos dan Kamboja masih rendah tingkat konsumsi listriknya.

Secara rerata, konsumsi listrik hanya di kisaran 300 hingga 1.800 kilo watt hour (kWh) per orang. Adapun negara-negara di kawasan Asia Tenggara kapasitas yang kini telah terpasang 209 giga watt (GW).

Diperkirakan hingga 2035, diperlukan tambahan kapasitas 270 GW untuk memenuhi kebutuhan. Guna merealisasikan tambahan kapasitas pembangkit listrik, menurutnya, investasi sekitar US$500 miliar.

"Butuh tambahan 270 GW kapasitas baru pada 2035 untuk memenuhi kebutuhan listrik. Kami memperkirakan investasi sekitar US$500 miliar dibutuhkan untuk membangun kapasitas ketenagalistrikan," ujarnya dalam keterangan yang diterima Bisnis, Jumat (29/9/2017).

Saat ini, negara-negara di Asia Tenggara membangun pembangkit-pembangkit baru untuk menambah rasio elektrifikasi. Namun, upaya untuk menambah kapasitas ketenagalistrikan terkendala masalah pendanaan yang menjadi peluang untuk penanaman modal asing.

Berbeda dengan Uni Eropa, negara-negara di Asia Tenggara cenderung mengembangkan sektor ketenagalistrikan masing-masing tanpa berpikir pada penguatan infrastruktur di kawasan. Oleh karena itu, dia menyebut perlu terobosan untuk bisa memperkuat infrastruktur melalui pola-pola kerja sama.

"Dengan adanya kendala pendanaan, ini menjadi magnet yang kuat untuk penanaman modal asing," katanya.

Tag : asean
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top