Mengajak Gajah menjaga Perdamaian

PELALAWAN Hari sudah agak siang saat kami tiba di Kamp Elephant Flying Squad (EFS) di Estate Ukui, Pelalawan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).
MediaDigital
MediaDigital - Bisnis.com 04 Oktober 2017  |  17:00 WIB

PELALAWAN – Hari sudah agak siang saat kami tiba di Kamp Elephant Flying Squad (EFS) di Estate Ukui, Pelalawan  PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Dari kejauhan telah nampak para mahot (pawang) gajah bermain dengan beberapa beberapa hewan besar ‘asuhannya’. Mereka terlihat akrab seperti teman yang bermain bersama di halaman.

Kami disambut oleh Sarmin, salah seorang mahot yang bertugas di Kamp EFS. Selain memperkenalkan dirinya, pria 43 tahun itu juga memperkenalkan nama enam ekor gajah penghuni kamp tersebut, yaitu Adei, Ika, Raja Arman, Carmen, Mira, dan Meri. Khusus Raja Arman, nama tersebut merupakan pemberian Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan yang pernah berkunjung ke kamp tersebut.

“Gajah itu hewan yang sensitif. Seperti perempuan, jadi harus pintar-pintar merujuk. Maunya dimanja,” kata dia beberapa waktu lalu saat ditemui di Kamp EFS.

Di kamp ini, Sarmin dan para mahot lainnya melatih gajah untuk membantu menekan konflik antara manusia dengan gajah. Sebagai binatang yang hidup berkelompok,  gajah kerap berpindah dari satu wilayah ke lokasi lainnya secara bersama-sama.  Saat perpindahan itulah kadang jalurnya melintasi pemukiman penduduk atau perkebunan.

"Jadi gajah bisa saja masuk ke kebun atau ladang masyarakat, dan itu yang kami upayakan pengendaliannya," kata dia.

Setelah terbentuknya tim ini, konflik antara gajah dengan manusia di Estate Ukui dan sekitarnya dapat diredam.

Pada 2005, PT RAPP bersama pihak terkait seperti World Wide Fund (WWF) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menandatangani nota kesepahaman mengelola tim patroli dengan gajah, dan pada 2006 tim itu dikukuhkan di Estate Ukui, Pelalawan.

Awalnya, ada empat gajah yang menghuni Kamp EFS. Seiring berjalannya waktu, dua gajah betina akhirnya bunting dan melahirkan dua anak  gajah, masing-masing pada 2009 dan 2011, sehingga saat ini total ada enam ekor gajah di lokasi tersebut. 

Selain membantu memitigasi konflik, gajah juga sering diajak untuk berpatroli  hutan, terutama dalam memonitor terjadinya kebakaran lahan dan hutan.

Setiap gajah mendapatkan perawatan serta perhatian penuh dari para mahot. Perawatan yang diberikan yaitu pemeriksaan kesehatan setiap enam bulan, supaya gajah berada dalam kondisi sehat dan kuat berkegiatan. Mereka juga mendapatkan pasokan makanan yang cukup, makanan tambahan, dan multivitamin.

"Di antara makanan yang kami berikan itu adalah rotan, sukun, lalang, yang banyak getahnya, lalu daun putri malu sebagai obat cacing, untuk snack-nya kami masak dedak dan gula merah, diberikan dua kali sehari pagi dan sore," katanya.

Sarmin dan rekan juga memberikan buah-buahan sebagai multivitamin bagi gajah seperti pisang, semangka, dan nanas. Semua asupan itu diharapkan dapat menjaga kondisi kesehatan gajah.

Akrab Dengan Gajah

Sarmin telah akrab dengan hewan berbelalai panjang tersebut sejak bergabung  di Pusat Konservasi Gajah Taman Nasional Way Kambas, Lampung pada 1986. Pada 2006, pria asal Solo itu ditugaskan di Kamp EFS Ukui. Kenapa dinamakan Flying Squad? “Ini adalah kelompok reaksi cepat. Jadi begitu ada konflik, kami langsung bergerak,” ujar dia.

Sarmin bersama delapan rekannya bergabung melatih gajah di Kamp EFS PT RAPP yang didirikan pada 2006. Awalnya, satuan bergajah tersebut dirintis usai penyerahan empat ekor gajah, satu jantan dan tiga betina, bantuan pemerintah yang berasal dari Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Sebanga pada 1994. Pada 2001, keempat gajah tersebut dipindah ke Estate Langgam, sebelum akhirnya ditempatkan di Estate Ukui.

Tag : rapp
Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top