PANEL SURYA ATAP, Potensi di Jawa Bisa Tembus 40 GW

Kapasitas listrik nasional akan meningkat 40 Gigawatt (GW) jika seluruh rumah di Jawa yang sekitar 30 juta-40 juta rumah tangga bersedia menggunakan modul surya 1 kilowatt (kW) di setiap atap rumah.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 28 November 2017  |  10:39 WIB
Seroang pekerja sedang memasang panel surya di sebuah perumahan di San Diego, California, AS. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Kapasitas listrik nasional akan meningkat 40 Gigawatt (GW) jika seluruh rumah di Jawa yang sekitar 30 juta—40 juta rumah tangga bersedia menggunakan modul surya 1 kilowatt (kW) di setiap atap rumah.

"Sedangkan kalau hanya sepersepuluhnya saja atau sekitar empat juta rumah maka akan ada tambahan 4 GW. Ini sudah membantu pemerintah mencapai target pembangunan pembangkit listrik 114 GW pada 2025," kata perekayasa energi kelistrikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi di Yogyakarta, Selasa (28/11).

Dalam diskusi bertajuk Peran Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman itu, Arya mengatakan, modul pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) saat ini sudah sangat murah, yakni Rp15 juta per 1 kWh.

Namun, harga sebesar ini merupakan investasi jangka panjang hingga belasan tahun, yang bisa menghemat biaya penggunaan listrik di masing-masing rumah setiap bulannya, apalagi harga listrik PLN akan terus meningkat.

"Jika rata-rata konsumsi listrik rumah tangga kelas menengah mencapai 340 kWh per bulan dengan harga listrik Rp1.450 per kWh, tentu selama 10 tahun cukup signifikan jika bisa dikurangi biayanya sampai 90 kWh dari modul surya ini," katanya.

Dia menyatakan optimistis masyarakat dan para pengembang perumahan bersedia menyediakan panel surya atap (rooftop) secara mandiri karena meskipun sel surya masih diimpor, tetapi Indonesia sudah memiliki 12 pabrik modul surya dengan total kapasitas lebih dari 100 megawatt (MW) per tahun.

Sementara itu, Manager Senior PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Divisi Energi Baru Terbarukan Yudistian Yunis mengatakan, kapasitas listrik suatu negara berbanding lurus dengan kemajuan ekonominya.

"Kapasitas listrik per kapita Indonesia yang 207 kWh per kapita masih jauh dibanding negara lain di Asean, misalnya Malaysia yang 929 kWh per kapita bahkan kalah dari Thailand dan Vietnam, sedangkan China 1.074 kWh per kapita," katanya.

Hal ini, ujarnya, karena kapasitas listrik terpasang Malaysia yang mencapai 29 GW hanya untuk 30 juta penduduk, sedangkan Indonesia 60 GW untuk 270 juta penduduk.

"Kapasitas listrik nasional harus terus ditambah, khususnya dari berbagai energi terbarukan agar bisa kompetitif untuk investasi pembangunan industri," katanya.

Sumber : Antara

Tag : plts
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top