Akuisisi Pertagas Oleh PGN Dinilai Lebih Pas

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menilai strategi akuisisi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. terhadap PT Pertamina Gas lebih prospektif ketimbang memaksakan pembentukan holding BUMN di sektor migas.
Surya Mahendra Saputra
Surya Mahendra Saputra - Bisnis.com 07 Desember 2017  |  14:13 WIB
Petugas PT Perusahaan Gas Negara Tbk memeriksa Regulator System di Bogor, Jawa Barat, Kamis (28/9). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menilai strategi akuisisi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. terhadap PT Pertamina Gas lebih prospektif ketimbang memaksakan pembentukan holding BUMN di sektor migas.

Anggota BPK Achsanul Qasasi memandang, langkah PT Pertamina (Persero) yang berniat mengakuisisi Perusahaan Gas Negara (PGN) tidak tepat. Menurutnya, lebih cocok PGN yang mengakuisisi Pertamina Gas (Pertagas) karena sama-sama perusahaan yang mengelola gas.

"Kita sebaiknya memisahkan kelompok usaha sesuai core bisnis yang dikuasai, sehingga Pertagas lebih pas diakuisisi PGN. Sebagai perusahaan publik, itu bisa membantu saham PGN agar naik drastis," kata Achsanul.

Untuk itu, Achsanul menekankan bahwa gas memang seharusnya diurus PGN, dan minyak diurus oleh Pertamina. “Sangat tidak sesuai jika Pertamina yang mengakuisisi PGN, karena core bisnisnya yang berbeda.”

Achsanul juga mengungkapkan, jika PGN dan Pertagas saling bersinergi, maka akan mengurangi investasi ganda yang menyebabkan anggaran perusahaan sia-sia.

"Saat ini seringkali ada investasi ganda. PGN membangun pipa, Pertagas juga membangun pipa di lokasi yang sebetulnya beririsan. Jika mereka saling sinergi dan bersatu mungkin hal ini tidak akan terjadi, dan tidak terjadi juga pemborosan keuangan," katanya.

Seperti diketahui, BPK menemukan adanya potensi kerugian ratusan miliar yang dialami Pertagas pasca tidak efektifnya sejumlah proyek yang dikerjakan anak usaha Pertamina tersebut.

Mengacu Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I/2017, potensi kerugian Pertagas bersumber dari tidak optimalnya bisnis niaga dan transportasi gas perusaaan di sejumlah wilayah seperti di Jakarta, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, dan Jawa Timur dalam periode 2014 hingga semester I/2016.

"Pada kegiatan niaga gas, Pertagas menanggung kehilangan pendapatan senilai US$16,57 juta dan timbulnya piutang macet senilai US$11,86 juta akibat penyusunan nominasi, skema niaga, dan operasi pemanfaatan gas Pondok Tengah yang tidak mempertimbangkan kondisi operasi, serta pengalihan alokasi gas untuk kebutuhan compressed natural gas (CNG) kepada PT Mutiara Energy," ujar Ketua BPK Moermahadi Soerja dalam IHPS I/2017, beberapa waktu lalu.

Selain kerugian itu, Pertagas juga berpotensi mengalami kerugian dalam pengerjaan proyek pipanisasi Belawan yang menghubungkan Kawasan Industri Medan dengan Kawasan Ekonomi Khusus. Dari proyek senilai Rp183 miliar itu, Pertagas diyakini bakal menanggung kerugian dalam jangka waktu yang panjang lantaran hingga kini proyek pipanisasi Belawan belum juga rampung.

Tag : bumn, holding bumn
Editor : Surya Mahendra Saputra

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top