Kontribusi Industri Manufaktur Perlu Digenjot

Pemerintah berkomitmen meningkatkan peranan industri sebagai motor utama penggerak utama PDB nasional.
N. Nuriman Jayabuana | 08 Desember 2017 17:33 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memperhatikan prototipe kendaraan pedesaan yang diberi nama Moda Angkutan Hemat Pedesaan (Mahesa) Nusantara produksi Bengkel Kiat Motor di Klaten, Jawa Tengah. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah berkomitmen meningkatkan peranan industri sebagai motor utama penggerak utama PDB nasional.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan dalam mewujudkan visi tersebut memerlukan dukungan seluruh stakeholders dunia usaha.

Badan Pusat Statistik mencatat peranan industri pengolahan nonmigas terhadap PDB nasional mencapai 17,76% pada kuartal ketiga tahun ini.

Kontribusi sektor industri manufaktur merupakan yang tertinggi ketimbang sektor lain seperti pertanian dan perdagangan.

Pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada periode yang sama tercatat sebesar 5,49%, atau mulai melesat lebih tinggi ketimbang pertumbuhan ekonomi nasional 5,06%.

Airlangga menyatakan sektor industri manufaktur perlu terus digenjot menjadi kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi. “Industri membawa multiplier effect melalui peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa,” ujarnya dalam siaran pers (8/12).

Menurutnya, pemerintah berfokus mendorong hilirisasi berbagai sektor industri untuk meningkatkan saing dan menggenjot nilai tambah. Di samping itu, pemerintah tengah memberikan stimulus kepada sektor industri padat karya berorientasi ekspor seperti industri alas kaki, tekstil, makanan minuman, dan furnitur.

“Beberapa sektor industri ini kami usulkan memperoleh potongan pajak penghasilan yang dapat digunakan untuk reinvestasi,” ujarnya.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Rosan P Roeslani menyatakan peranan sektor industri manufaktur terhadap PDB nasional perlu terus ditingkatkan. Sebab sektor manufaktur merupakan roda penggera utama ekonomi negara-negara di dalam kawasan Asia Tenggara.

“Negara-negara maju pun meningkatkan industrinya, demi meraih pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” ujarnya.

Hanya saja, pebisnis menghadapi berbagai tantangan untuk memicu reindustriallisasi. Beberapa di antaranya merupakan permasalahan bahan baku, komponen lokal, kualitas SDM, dan kedalaman struktur industri.

“Industri adalah fondasi bagi pembangunan ekonomi nasional secara menyeluruh. Maka perbaikan struktur ekonomi Indonesia tidak bisa lepas dari upaya memperbaiki struktur industri guna menempatkan sektor industri sebagai motor perekonomian,” paparnya.

Tag : industri
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top