BISNIS FRANCHISE: 30 Waralaba Asing Cari Partner Lokal

Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia menilai waralaba asing masih bergairah masuk ke pasar Indonesia pada tahun, menyusul sekitar 30 merek franchise berniat masuk ke Tanah Air
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 10 Desember 2017  |  13:40 WIB
Waralaba kue basah terbesar dari Jepang, Chateraise, memulai bisnisnya di Indonesia. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Perhimpunan Waralaba dan Lisensi  Indonesia menilai waralaba asing masih bergairah masuk ke pasar Indonesia pada tahun, menyusul sekitar 30 merek franchise berniat  masuk ke Tanah Air.

Ketua Umum Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) Levita Ginting Supit mengatakan ketertarikan waralaba asing setelah melihat sejumlah faktor pendukung untuk investasi. Permintaan masyarakat yang meningkat ditambah lagi jumlah penduduk yang tinggi sehingga menjadi alasan  utama yang bisa mendorong investor untuk mengejar  keuntungan.

Sekitar 30 waralaba asing yang berniat masuk ke dalam negeri tersebut berasal dari Amerika Seerikat, Korea Selatan, Jepang, dan sejumlah negara di  Eropa. Ketertarikan tersebut juga dipicu respon positif konsumen di Indonesia terhadap franchise asing.

“Indonesia masih termasuk salah satu negara yang seksi untuk bisnis franchise dan masih menjadi negara yang prospek [untuk dimasuki investor waralaba], sehingga pada hari ini franchise asing banyak yang mau masuk ke Indonesia,” kata Levita Supit kepada Bisnis, Minggu (10/12/2017).

Menurutnya Levita yang juga Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi Indonesia Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, tahun ini sekitar 20 waralaba asing sudah masuk ke pasar Indonesia. Mereka bergerak di tiga sektor utama, yaitu food and beverage (f&b), jasa dan sisanya bergerak di bisnis dunia pendidikan.

Berdasarkan data penerbitan surat tanda pendaftaran waralaba (STPW) tahun 2012 – 2017 yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan, tercatat 94 waralaba asing yang telah terdaftar di Indonesia. Sebalinya pada tahun ini, tercatat setidaknya satu waralaba besar yang menutup gerainya, yakni Seven Eleven.

Menurut Wali, tahun lalu sumbangan pajak dari sektor waralaba menyentuh Rp180 triliun dengan 60% diantara berasal dari waralaba asing. Tahun ini pihaknya memperkirakan pertumbuhan di sektor ini akan naik di kisaran 8% hingga 10%. “Ini masih direkap, karena tahun masih berjalan.”

Peluang tersebut bisa dimanfaatkan oleh calon penerima waralaba (terwaralaba) untuk menanamkan modal serta meraup keuntungan.  Belum lagi psikologis masyarakat Indonesia dikenal mudah menerima merek yang sudah dikenal di luar negeri. Sehingga potensi perolehan keuntungan bakal besar.

Levita menuturkan penurunan daya beli ritel di Indonesia tidak mempengaruhi minat para investor di bidang waralaba. Bahkan sejak September lalu, pihaknya mengatakan telah menemani sejumlah calon investor waralaba asing untuk mengunjungi mal kelas menengah dan atas di Jakarta.

“Sudah ada yang kita temani untuk melihat bagaimana potensi pasarnya bagaimana, dikelas mal kelas A dan B. berapa banyak masyarakat yang masuk ke mal di akhir pekan,” tukasnya.

Meski tak menyebut jenis waralaba yang bakal menjadi pendatang baru di Tanah Air, Levita mengatakan investor masih melihat potensi pasar waralaba.  Sejumlah waralaba kata dia lebih memilih membuka gerainya di dalam pusat berbelanjaan. Namun ada pula yang memilih berdiri sendiri.

“Saat ini mereka masih dalam waiting list. Juga [waralaba asing] masih mencari partnernya di Indonesia,” tukasnya.

 

Tag : waralaba
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top