PELUANG USAHA: Mengentas Keuntungan dari Budidaya Bebek

Bisnis memang tidak pernah berjalan mulus dalam seketika. Pengalaman inilah yang pernah dialami oleh Albertus Bona Ferryando saat menekuni budidaya bebek hibrida yang diberi nama Polli Farm ini. Bisnis yang sudah dijalaninya sejak dua tahun lalu dimulai dengan kemitraan penuh dengan perusahaan pembibitan bebek.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 10 Desember 2017  |  14:05 WIB
Albertus Bona Ferryando dan ternak bebeknya. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Bisnis memang tidak pernah berjalan mulus dalam seketika. Pengalaman inilah yang pernah dialami oleh Albertus Bona Ferryando saat menekuni budidaya bebek hibrida yang diberi nama Polli Farm ini. Bisnis yang sudah dijalaninya sejak dua tahun lalu dimulai dengan kemitraan penuh dengan perusahaan pembibitan bebek.

Sayangnya, kemitraan tersebut tidak berlangsung lama karena sistem manajemen yang tidak jelas. Berawal dari pengalaman tersebut, Albertus memutuskan untuk mengembangkan bisnisnya secara mandiri dan tidak lagi bergantung pada mitranya tersebut.

“Untungnya lebih tinggi jika dikelola secara mandiri. Saya masih bermitra dengan perusahaan itu, tetapi hanya untuk menyuplai pakannya,” katanya.

Selama menggeluti bisnis budidaya bebek secara mandiri, dia mengatakan mampu memproduksi bebek setidaknya 960 ekor setiap minggunya. Adapun, bebek yang diternakkan olehnya merupakan bebek hibrida yang perkembangannya lebih cepat daripada bebek Jawa.

Bobot bebek hibrida dapat dipanen selama 45 hari. Albertus menjual 3 ukuran bebek hibrida yakni dengan bobot 1,5 kg, 1,8 kg, dan 2 kg.
Jika dihargai, bebek dengan bobot 1,5 kg di kisaran Rp33.000-Rp35.000, bebek dengan berat 1,8 kg Rp40.000, dan bebek dengan berat 2 kg atau lebih dihargai Rp45.000.

“Dari 3 bobot bebek itu, saya lebih banyak ke bebek dengan berat 2 kg karena permintaan para pedagang lebih banyak ke situ,” tuturnya.

Saat ini, dia mengemukakan kandang yang dimiliknya seluas 561 m2 yang dibagi menjadi 7 bagian. Masing-masing bagian diisi dengan 960 bebek sehingga kapasitas kandangnya mencapai 6.720 bebek.

Albertus mengatakan penjualan yang bisa diraihnya dari penjualan bebek sebesar 167 juta per bulan, dengan keuntungan sekitar Rp50 juta.
Untuk mendongkrak kinerja bisnisnya, dia juga berencana membidik segmen pasar lainnya yakni bebek karkas (bebek potong) yang nantinya bisa menyuplai kebutuhan restoran di sekitar Parung, Bogor.

“Harganya dan marginnya lebih tinggi karena kami langsung menyuplai ke pihak kedua, tanpa melalui pihak ketiga. Saat ini, bisnis bebek hidup sangat tergantung dengan para tengkulak dan harga yang dikenakan juga ditekan karena bebek itu akan dijual lagi ke pihak kedua,” ujarnya.

Kendati demikian, ekspansinya ke bebek karkas ini bukannya tanpa halangan karena menjual bebek karkas dinilainya tidak mudah. Pasalnya, menjual bebek karkas harus memperhitungkan mulai dari rumah potong hewan, pengemasan, pendinginan, hingga pembersihan. 

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top