PEMESANAN ONLINE HOTEL: PHRI Siapkan Bookingina.com

Tingginya tarif komisi yang dibebankan oleh online travel agent kepada pemilik hotel memaksa Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk membuat aplikasi serupa.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 11 Desember 2017  |  20:29 WIB
. - .

Bisnis.com, JAKARTA—Tingginya tarif komisi yang dibebankan oleh online travel agent kepada pemilik hotel memaksa Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk membuat aplikasi serupa.

Pada Senin (11/12), PHRI menggaet kerja sama dengan PT Maia Putra Lestari mengembangkan portal pemesanan hotel online yang dinamakan bookingina.com. Berbeda dengan OTA lainnya yang membebankan komisi mulai dari 17%, portal ini hanya mengenakan komisi sebesar 12% bagi pemilik hotel.

Pemberian komisi yang rendah juga diyakini dapat memberikan keunggulan kompetitip berupa harga yang terjangkau bagi konsumen sekaligus menambah keragaman pilihan OTA di Indonesia.

“Prinsipnya bookingina.com terbuka bagi semua pelaku bisnis perhotelan. Khusus untuk anggota PHRI, komisi yang dibebankan hanya 12%, sedangkan nonanggota minimal 15%,” kata Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani di sela peluncuran bookingina.com, Senin (11/12/2017).

Pengembangan bookingina.com diakuinya tidak terlepas dari tingginya penetrasi internet yang juga mempengaruhi cara wisatawan dalam merencanakan liburan mereka. Bahkan, dia mencatat hampir 99% pemesanan kamar hotel dilakukan secara online di hotel-hotel yang masuk sebagai anggota PHRI.

Berdasarkan data PHRI, jumlah hotel berbintang di Indonesia mencapai 2.300 unit dengan total kamar sebanyak 290.000. Sebaliknya, jumlah hotel non bintang yang diambil dari data Badan Pusat Statistik (BPS) sekitar285.000 dengan lebih dari 16.000 kamar.

“Perkembangan teknologi juga memberikan dampak positif bagi pertumbuhan okupansi saat ini. Akan tetapi, kami tidak bisa memungkiri bahwa tingginya penggunaan online travel agency [OTA] juga menggerus keuntungan,” tambahnya.

 Bookingina.com diperkirakan segera meluncur pada tahun depan, dan tahun ini akan difokuskan sebagai masa pengembangan aplikasi dan pengumpulan database hotel. Hingga 1 bulan ke depan, PHRI optimistis sekitar 250 hotel bisa bergabung dengan aplikasi ini.

 Selain komisi yang lebih rendah dibandingkan OTA kebanyakan, pemilik hotel juga memiliki fleksibilitas untuk menentukan pemberian diskon sesuai dengan kebutuhan.

"Fleksibilitas menjadi daya tarik tersendiri sehingga kami mengharapkan semakin banyak pemilik hotel bisa bergabung dalam aplikasi ini," tuturnya.

Nantinya, website ini juga akan diintegrasikan dengan situs Wonderful Indonesia yakni indonesia.travel dan masuk dalam Program Visit Wonderful Indonesia 2018. Dengan terintegrasinya portal ini dengan website Kementerian Pariwisata, dia mengungkapkan sangat dimungkinkan para pelaku hotel memberikan diskon atau promo berbasis pada lokasi geografi dimana kegiatan wisata dilakukan.

Untuk sementara, dia mengungkapkan portal ini akan fokus melayani bisnis pemesanan hotel dan secara bertahap akan menjangkau ke bisnis restoran.

Kendati demikian, dia meyakinkan bahwa model bisnis bookingina.com berbeda dengan yang dilakukan oleh OTA kebanyakan.“Kami fokus menjual kamar, sedangkan OTA lain kan lebih menjual ke data dan traffic,” tekannya.

Laporan Criterio yang berjudul ‘The New Asia Pasific Digital Traveller 2017’ menyebutkan penggunaan telepon pintar di kawasan Asia Pasifik terus menunjukkan peningkatan ketika masyarakat merencanakan liburan.

 Khusus untuk Indonesia, 69% responden memilih memesan tiket pesawat dan hotel melalui aplikasi OTA di telepon pintar mereka, sedangkan sisanya melalui browser.

 Bahkan pengaruh iklan di internet menjadi pendorong signifikan bagi masyarakat Indonesia yang merencanakan liburannya dengan porsi 44%. Sebaliknya, ulasan di website OTA atau pariwisata lainnya menjadi pendorong utama untuk berlibur bagi turis dari Singapura, India, China, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Australia.

 Sementara itu, Tommy Singgih, Director Mastercard Indonesia, mengatakan segmen konsumen industri perjalanan Indonesia didominasi oleh populasi relatif muda yang berada di kisaran usia 25-49 tahun.

"Dari sisi usia, semakin banyak usia muda yang bepergian baik domestik maupun ke luar negeri. Kemudahaan juga sudah didapat melalui pemesanan secara daring dan bisa dipesan di mana pun dan kapan pun,” jelasnya.

Bagi populasi usia produktif yang sudah melek internet, kemudahan-kemudahaan yang sudah mereka terima ketika merencanakan hingga melakukan perjalanan seharusnya terus mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhan.

Ketatnya persaingan industri perjalanan, terutama online travel agent, dinilainya harus menjadi lecutan bagi pelaku industri untuk terus mematangkan fitur produknya.

Terobosan-terobosan tersebut tentunya harus diikuti dengan ketersediaan infrastruktur yang mendukung digitalisasi misalnya sinyal, fasilitas pembayaran, dan kesiapan destinasi pariwisata itu sendiri.

Berdasarkan peringkat Alexa, lima OTA yang menguasai pasar Indonesia adalah Traveloka, Tiket.com, Pegipegi, Nusatrip, dan Agoda Indonesia.

Tag : phri
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top