Asosiasi Baja Sambut Baik Klaster Batu Licin

Purwono Widodo, Ketua Cluster Flat Product IISIA menyambut baik rencana pembangunan klaster baja di Batu Licin, Kalimantan Selatan.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 11 Desember 2017  |  21:35 WIB
Industri baja - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA—Purwono Widodo, Ketua Cluster Flat Product IISIA menyambut baik rencana pembangunan klaster baja di Batu Licin, Kalimantan Selatan.

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. ini mengatakan perseroan memiliki anak usaha yang berada di Batu Licin, yaitu Meratus Jaya Iron & Steel.

Namun, karena kendala operasional, maka perusahaan ini berhenti beroperasi hingga sekarang. "Operasi pabrik di Batu Licin itu harus hulu hilir, sebetulnya beberapa perusahaan menawarkan kerja sama dengan kami [untuk mengopersikan kembali]," ujarnya.

Pembangunan klaster baja nasional bakal bertambah dengan proyek di Batu Licin, Kalimantan Selatan. Sebelumnya, pemerintah menetapkan proyek pembangunan klaster baja Cilegon dan Morowali untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Seperti diberitakan sebelumnya, klaster baja Cilegon bakal memproduksi 10 juta ton baja karbon pada 2025, sedangkan klaster Morowali memproduksi stainless steel sebesar 3,5 juta ton pada 2020.

"Kemarin sudah ditandatangani MoU untuk membangun klaster baja 3 juta ton di Batu Licin," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Seminar Nasional Outlook Industri 2018 di Jakarta, Senin (11/12/2017).

Sepanjang tahun lalu konsumsi baja tercatat sebesar 12,7 juta ton. Produsen dalam negeri hanya mampu memenuhi kebutuhan crude steel sebesar 6,8 juta ton, sehingga sisanya harus diimpor.

Dengan kebijakan pemerintah yang saat ini fokus dalam pembangunan infrastruktur, permintaan baja hingga 2025 diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 21,4 juta ton.

Saat dikonfirmasi, Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan pembangunan klaster baja tersebut rencananya dilakukan oleh investor asal China Shenwu Technology Group Corp. Co, Ltd. menggandeng partner lokal, yaitu PT Gunung Garuda. Setelah penandatanganan nota kesepahaman, keduanya akan mempelajari dahulu potensi yang ada di Batu Licin. 

Menurutnya, di wilayah tersebut, terdapat batu bara dan pasir besi yang lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan hasil impor. Investor asal China tersebut memiliki teknologi yang dapat memanfaatkan batu bara dan pasir besi low rank.

"Mereka mau investasi karena potensi pasar di Asean dan di Indonesia masih besar. Produknya nanti carbon steel, kami harap bisa sampai produk hilir," ujarnya.

Terkait investasi, Harjanto tidak menyebutkan secara pasti. Namun, dia menggambarkan investasi Krakatau Posco untuk pabrik baja berkapasitas sama beserta powerplant mencapai sekitar US$3 miliar. Adapun, investasi di Morowali mencapai sekitar US$900 juta dengan powerplant senilai US$700 juta. 

"Tergantung infrastruktur dan teknologi yang mereka gunakan. Bisa tertakar investasinya berapa dengan kapasitas 3 juta ton," katanya. 

Tag : baja
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top