Produk Impor Masih Rajai Pasar Alat Kesehatan

Pasar alat kesehatan masih diramaikan oleh produk asing yang menguasai pasar hingga 92%.
N. Nuriman Jayabuana
N. Nuriman Jayabuana - Bisnis.com 13 Desember 2017  |  21:51 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan alat kesehatan di salah satu pabrik. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Pasar alat kesehatan masih diramaikan oleh produk asing yang menguasai pasar hingga 92%.

Policy pemerintah perlu terus diperhatikan karena memang saat ini masih lebih banyak distributor alkes daripada industrinya,” ujar Ketua Umum Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia Ade Tarya Hidayat di sela-sela Rakernas Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) di Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Permintaan terhadap produk alat kesehatan di dalam negeri diperkirakan mencapai Rp27 triliun pada tahun depan, atau naik 10% dibanding nilai pasar alat kesehatan tahun ini senilai Rp24triliun.

Ade menyatakan pasar dalam negeri masih bertumpu kepada kenaikan belanja pemerintah untuk pengadaan alat kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional.

“Porsi belanja pemerintah dalam JKN untuk alat kesehatan masih yang paling besar, sekitar Rp17 triliun,” ujarnya.

Bisnis penunjang kesehatan di Tanah Air termasuk farmasi terus menunjukkan pertumbuhan, di antaranya berkat sokongan program JKN. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sebelumnya menyatakan pasar farmasi nasional setiap tahun terus mengalami pertumbuhan positif. Produsen farmasi lokal, menurutnya, mampu memasok sebanyak 70% kebutuhan obat dalam negeri.

Nilai pasar produk farmasi di Indonesia diperkirakan mencapai US$ 4,7 milIar, atau setara dengan 27% nilai pasar farmasi seluruh Asean. Produsen farmasi domestik didorong teruss meningkatkan kapasitas untuk meningkatkan penetrasi ekspor.

Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015-2035, sektor industri farmasi merupakan salah satu sektor industri penggerak utama ekonomi nasional di masa mendatang. Sektor industri tersebut menyerap sebanyak 40.000 tenaga kerja.

“Dengan semakin stabilnya program jaminan kesehatan nasional, maka captive market sektor farmasi semakin membesar,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Rosan P. Roeslani menyatakan perusahaan farmasi multinasional kini melirik Asean sebagai salah satu pasar yang potensial. Sebab laju pertumbuhan permintaan terhadap produk farmasi di Asean bergerak cukup ekspansif dalam beberapa tahun terakhir.

“Hampir semua perusahaan besar farmasi melihat future pasarnya berada di Asean. Itu mengapa sekarang banyak pemain farmasi asing yang berminat investasi di Asean, termasuk di Indonesia. Apa lagi dari India, mereka yang paling ngotot untuk bisa masuk ke Indonesia,” ujarnya.

 

 

Tag : alat kesehatan
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top