Kemenperin Optimistis Target Investasi Rp325 triliun Tercapai

Kemenperin optimistis target realisasi investasi pada akhir tahun ini dapat tercapai, terutama berkat sokongan kontribusi industri pengolahan yang masih tinggi untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA).
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 13 Desember 2017  |  21:23 WIB
Ilustrasi industri berbahan baku benang. - Bloomberg/David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA—Kemenperin optimistis target realisasi investasi pada akhir tahun ini dapat tercapai, terutama berkat sokongan kontribusi industri pengolahan yang masih tinggi untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA).

Untuk PMDN, industri manufaktur mencatatkan kontribusi senilai Rp73 triliun atau sebesar 37,5% dan untuk PMA senilai US$10,5 miliar atau 43,9% pada kuartal III/2017.
“Kami lihat ada investasi ada yang belum selesai prosesnya, ada beberapa komitmen yang akan diselesaikan tahun ini. Masih ada 3 bulan, kami relatif masih optimistis [mencapai target],” ujar Haris Munandar, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, di Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Kementerian Perindustrian memproyeksikan realisasi investasi di sektor manufaktur pada 2018 bisa mencapai Rp400 triliun. Tahun ini, target realisasi industri pengolahan ditargetkan Rp325 triliun. Hingga kuartal III/2017 realisasi investasi tercatat senilai Rp212,8 triliun atau mencapai 65,47% dari target yang ditetapkan.

"Realisasi untuk tahun ini kan Rp270 triliun sampai Rp300 triliun, tahun depan bisa Rp400 triliun dari berbagai sektor," ujar Haris Munandar, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, di Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Menurutnya, sumbangan realisasi investasi dari tiga sektor pada tahun depan, yaitu agro, industri kimia, tekstil, dan aneka (IKTA), serta industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika (Ilmate) relatif sama besar. Dari sektor Ilmate, Haris menyebutkan investasi lebih banyak dilakukan oleh pelaku industri logam.

Untuk industri agro, sumbangan investasi banyak dilakukan dari sektor pengolahan crude palm oil (CPO) dan turunannya, sedangkan untuk IKTA banyak disumbang oleh sektor petrokimia. Terkait dengan harga gas industri yang dinilai masih tinggi, dia menilai tidak terlalu berpengaruh besar terhadap realisasi investasi sektor pengolahan. Menurutnya, investor dalam memutuskan aksinya tidak hanya mempertimbangkan satu faktor saja. "Mereka enggak hanya tergantung pada faktor energi, tetapi juga yang lain seperti bahan baku dan potensi pasar. Nanti dihitung-hitung, [beban] energi bisa dicover sama yang lain," kata Haris. 

Untuk menarik lebih banyak investor, Kemenperin juga sedang gencar mengembangkan kawasan industri, terutama di luar Jawa. Untuk memenuhi kebutuhan gas di kawasan industri, Haris menyebutkan terdapat opsi impor. 

Namun, opsi ini belum tentu lebih murah karena harus membangun infrastruktur jaringan pipa gas di dalam kawasan industri. "Kami juga cari opsi yg lain, salah satunya memotong biaya dari beberapa rantai yang bisa dikurangi," ujarnya.

Tag : manufaktur
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top