IPC Klaim Biaya Impor Turun 10% Dengan CFS

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) mengestimasi penurunan biaya impor hingga 10% berkat operasional container freight station (CFS). Layanan CFS diharapkan bisa memperlancar arus barang dan pengurusan dokumen di Pelabuhan Tanjung Priok.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 13 Desember 2017  |  15:25 WIB
Jakarta International Container Terminal (JICT) di Tanjung Priok, Jakarta - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) mengestimasi penurunan biaya impor hingga 10% berkat operasional container freight station (CFS). Layanan CFS diharapkan bisa memperlancar arus barang dan pengurusan dokumen di Pelabuhan Tanjung Priok.

Direktur Operasional dan Sistem Informasi IPC, Prasetyadi mengatakan perseroan telah menggejar live trial layanan CFS sejak sebulan lalu. "Trial ini bukan berarti coba-coba, tapi mereka [importir] beneran bayar lho. Selama trial kami lihat ada kekurangan atau tidak," ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (13/12/2017).

Untuk diketahui, CFS adalah fasilitas penyimpanan kontainer impor berstatus less than container load (LCL) yang masih dalam pengawasan kepabeanan. Kontainer LCL adalah kontainer yang berisi barang impor kepunyaan lebih dari satu orang pemilik barang. Dengan layanan terpusat, arus kontainer diharapkan bisa mengalir lebih cepat sekaligus menurunkan biaya logistik.

Di lain pihak, Kementerian Perhubungan sudah menerbitkan aturan yang membatasi keberadaan kontainer di empat pelabuhan utama. Kontainer yang sudah mengantongi surat perintah pengeluaran barang (SPPB) harus direlokasi dari area pelabuhan. Ketentuan ini diatur dalam Permenhub No. 25/2017 tentang Batas Waktu Penumpukan Peti Kemas empat Pelabuhan Utama, yakni Tanjung Priok, Tanjung Perak, Belawan, dan Makassar.

Sebelumnya, Direktur Utama IPC, Elvyn G. Masassya mengatakan layanan CFS merupakan bagian dari upaya perseroan untuk menjadi digital port. "Kami ingin menjadi digital port dan ini bukan cuman soal [operasional] di laut, tetapi juga supporting. Intinya kami ingin membuat flow of goods dan flow of document berjalan efisien," jelasnya.

Hingga 2020 IPC siap merogoh kocek untuk investasi hingga Rp1 triliun untuk digitalisasi layanan, mulai dari aspek sisi marine, terminal, dan supporting. Layanan CFS bakal memadukan enam pihak, mulai yakni terminal petikemas, forwarder, Bea Cukai, CFS operator, pemilik kargo, hingga perbankan. Portal CFS juga bisa menjadi semacam marketplace di mana pemilik barang bisa memilik jasa forwarder layaknya memesan tiket pesawat di aplikasi perjalanan.

Tag : ipc
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top