BPPT Bakal Ajukan SNI untuk Rubber Airbag

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi berupaya mengendalikan impor rubber airbag dengan mengajukan sertifikasi standar nasional Indonesia.
Regi Yanuar Widhia Dinnata
Regi Yanuar Widhia Dinnata - Bisnis.com 14 Desember 2017  |  21:55 WIB
Peluncuran rubber airbag. - JIBI/Regi Yanuar W.D.

Bisnis.com, CIREBON—Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi berupaya mengendalikan impor rubber airbag  dengan mengajukan sertifikasi standar nasional Indonesia.

Unggul Priyanto, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), menyampaikan bahwa penyusunan sertifikasi standar nasional Indonesia (SNI) untuk komoditas rubber airbag telah sampai kepada pihak Badan Standar Indonesia (BSN). Saat ini, sertifikasi tersebut tinggal menunggu keputusan dari BSN.

Dia berharap SNI ini dapat selesai pada akhir tahun ini atau pada awal 2018. Penerapan SNI ini bertujuan untuk membendung impor produk rubber airbag dari China yang saat ini mendominasi di pasar Tanah Air. Selain itu, sertifikasi tersebut berguna untuk menggenjot industri dalam negeri yang memproduksi rubber airbag agar terus bertumbuh.

"SNI ini untuk menjamin keberlangsungan bisnis industri dalam negeri yang sudah memiliki kemampuan untuk membuat rubber airbag," kata Unggul kepada Bisnis.com, Kamis (14/12/2017).

Kendati demikian, jumlah produksi rubber airbag lokal belum mampu memenuhi permintaan nasional yang saat ini bisa mencapai lebih dari 1.000 unit. Pemerintah harus mendorong jumlah produksi dari komoditas rubber airbag ini dengan beberapa kebijakan yang menguntungkan industri.

"Sertifikasi ini untuk memberikan jaminan kepada industri perkapalan agar menggunakan produk yang tepat. Jaminan ini penting karena saat ini rubber airbag dari China belum bisa dipastikan kualitasnya," imbuhnya.

Menurutnya, industri rubber airbag nasional telah memiliki modal untuk bisa mandiri, seperti didukung oleh ketersediaan bahan baku karet yang melimpah di Indonesia. Bahkan, bahan baku tersebut belum terserap secara baik oleh industri nasional sehingga saat ini sebesar 85% karet masih diekspor.

Selain itu, industri rubber airbag disokong oleh tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang mencapai hampir 90%. "Beberapa yang bisa dilakukan pemerintah, yaitu menjamin ketersediaan bahan baku dan menyuplai produk ini untuk proyek pengadaan kapal atas pesanan pemerintah," ujarnya.

Industri rubber airbag hasil kerja sama antara BPPT dan PT Samudera Luas Paramacitra merupakan yang pertama di Tanah Air. Rubber airbag ini merupakan hasil pengembangan dan penelitian (Litbang) yang dilakukan oleh BPPT sejak 2015.

 

Tag : bppt
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top