Standar Euro 4 Dongkrak Impor BBM?

Impor bahan bakar minyak (BBM) diharapakan tak naik meskipun standar Euro 4 diberlakukan.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 20 Desember 2017  |  19:52 WIB
Pertalite, produk bensin baru dari Pertamina - Antara/M. Agung Rajasa

Bisnis.com, JAKARTA - Impor bahan bakar minyak (BBM) diharapakan tak naik meskipun standar Euro 4 diberlakukan.

Direktur Pemasaran Pertamina Muchammad Iskandar memperkirakan kebutuhan Pertamax Turbo HQ sebesar 2,5 kl per hari di setiap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di 306 lokasi.

Dia menilai untuk saat ini, konsumsi Pertamax Turbo tergolong masih rendah bila dibandingkan dengan jenis lain seperti Premium dan Pertalite. Oleh karena itu, bila pun berlaku, dia berharap tak ada lonjakan konsumsi yang mengakibatkan pihaknya perlu melakukan impor produk BBM Euro 4.

Adapun, mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup, kilang domestik bisa mendukung penerapan BBM Euro 4 di 2021. Dengan asumsi pertumbuhan konsumsi BBM sebesar 4,5% per tahun, dia menyebut tak akan dilakukan impor tambahan untuk bisa memenuhi kebutuhan BBM di Tanah Air.

Sebagai gambaran, saat ini konsumsi BBM nasional sebesar 1,6 juta barel per hari (bph). Sementara itu, impor produk BBM sebesar 9 juta barel per bulan dan minyak mentah sebesar 390.000 barel per hari (bph).

"Kan 2021 [penerapannya mengacu pada] peraturan KLHK, harapannya kan kilang produksi domestik sudah jadi semua yang eksisting sehingga impornya tetap," ujarnya usai menghadiri peluncuran Pertamax Turbo HQ di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (20/12/2017).

Direktur Pengolahan Pertamina, Toharso, mengatakan Pertamax Turbo HQ berasal dari olahan di Kilang Balongan. Produksi dari Kilang Balongan sebesar 10.000 kiloliter (kl) per hari yang menyuplai kebutuhan di Jawa Barat dan Jakarta.

Menurutnya, untuk mengejar standar Euro 4, pihaknya perlu menambahkan campuran seperti paraniptik, olefin, aromat. Namun, hal itu tak bisa dieksekusi karena menanti spesifikasi detail dari pemerintah.

"Kan belum ada spek detail. Pemerintah harus tentukan kita euro 4 speknya, gini-gini. Bertahap nanti semua," katanya.

Kilang lainnya, ujar Toharso, bisa memproduksi standar Euro 4 secara bertahap tanpa harus menanti seluruh proyek penambahan kapasitas selesai. Seperti diketahui, perseroan tengah menjalankan empat proyek Refinery Development Masterplan Program (RDMP) seperti Kilang Balongan, Kilang Cilacap, Kilang Dumai dan Kilang Balikpapan yang diperkirakan selesai sekira tahun 2023.

Melalui upgrading minor, katanya, bisa membuat kilang mampu menghasilkan BBM bersulfur rendah. Sebagai contoh, dia menyebut pada tahun depan pihaknya akan melakukan perawatan kilang (turn around) sekaligus upgrading kemampuan pengolahan sehingga bisa menghasilkan produk bersulfur rendah di Kilang Balongan pada medio 2018.

"Kalau upgrade dulu, [bisa menghasilkan produk dengan sulfur] 300 ppm jadi 50 ppm. Jadi enggak perlu nunggu 2023. Kalau RDMP, ubah semua susunan kilang."

Tag : BBM
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top