INSA: Prospek Bisnis Pelayaran 2018 Cerah

Pelaku usaha di industri pelayaran optimistis prospek usaha di 2018 bakal lebih cerah.
Rivki Maulana | 20 Desember 2017 18:14 WIB
Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto - JibiPhoto

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku usaha di industri pelayaran optimistis prospek usaha di 2018 bakal lebih cerah, didorong oleh kenaikan harga komoditas dan kewajiban penggunaan kapal lokal untuk pengangkutan barang ekspor. Kinerja pelayaran juga bakal ditopang oleh kondisi ekonomi makro yang lebih kondusif.

Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,4% bakal membuat kinerja pengangkutan domestik tumbuh moderat. Namun, kegiatan ekspor impor diperkirakan bakal mengalami percepatan di awal kuartal II/2017 seiring dengan pemulihan harga komoditas batu bara dan minyak sawit (crude palm oil).

“Kinerja pelayaran nasional diprediksiakan tumbuh bertahap terutama pada sektor angkutan curah, tongkang atau tug and barge, dan kargo kontainer,” jelas Carmeilta, Rabu (20/12/2017).

Dia menambahkan industri pelayaran bakal mendapat angin segar berkat Permendag No.82 Tahun 2017. Beleid ini mewajibkan penggunaan kapal yang dikuasai perusahaan pelayaran lokal untuk pengangkutan ekspor batu bara dan CPO. Aturan ini mulai berlaku pada April 2018.

Darmansyah Tanamas, Wakil Ketua Umum III DPP INSA, menilai Permendag No.82 Tahun 2017 menjadi peluang bagi perusahaan pelaran nasional karena terdapat ceruk pasar baru yang bisa mendongkrak volume kargo. Namun, di sisi lain, perusahaan pelayaran nasional juga ditantang untuk bisa menyediakan armada yang andal sesuai dengan kebutuhan pebisnis batu bara. Pasalnya, armada asing tetap bisa menjamah angkutan ekspor bila armada nasional tidak tersedia atau terbatas.

Di angkutan kontainer, INSA memperkirakan volume kargo bisa tumbuh 10%--20%. Witono Soeprapto, Wakil Ketua Umum I DPP INSA mengatakan pertumbuhan angkutan kontainer cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Kendati demikian, persaingan di segmen ini masih terbilang sehat dan belum mendorong konsolidasi kontainer seperti halnya di luar negeri.

Dia menuturkan, anggota INSA di segmen kontainer melakukan pembenahan dengan mengembangkan sistem booking online. Selain menjadi transparan, sistem ini juga memutuskan pihak ketiga yang kerap menjadi penrantara antara pemilik barang dan pelayaran.

Di sisi lain, segmen lepas pantai atau offshore diperkirakan masih belum menemukan momentum pemulihan di 2018. Darmadi Go, Wakil Ketua Umum II DPP INSA menuturkan, utilisasi armada pelayaran lepas pantai tahun ini tidak lebih dari 60%.

Segmen lepas pantai terseret dampak negatif dari penurunan kegiatan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) seiring dengan anjloknya harga minyak dunia sejak 2014. Walhasil, kapal lepas pantai yang biasa digunakan untuk kegiatan produksi dan eksplorasi migas menjadi jarang digunakan. Tren kenaikan harga minyak dunia ke level US$50 per barel menurut Darmadi belum akan mendongkrak permintaan kapal lepa pantai. "Pada 2018, kinerja pelayaran offshore belum benar-benar tumbuh signfikan.”

Tag : insa, pelayaran
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top