Industri Pabrikator Baja Lokal Kalah Saing dari China

Industri pabrikator baja dalam negeri mengalami hambatan untuk bersaing dengan produk impor dari China. Asosiasi pun akan berjuang agar pemerintah melindungi produk berbahan baja hasil pabrikan domestik.
Annisa Sulistyo Rini | 21 Desember 2017 16:17 WIB
Industri baja - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA—Industri pabrikator baja dalam negeri mengalami hambatan untuk bersaing dengan produk impor dari China. Asosiasi pun akan berjuang agar pemerintah melindungi produk berbahan baja hasil pabrikan domestik.

Ketua Umum Asosiasi Pabrikator Baja Indonesia (Apbindo) Agus Budhiarto mengatakan dengan gencarnya pembangunan proyek infrastruktur pemerintah, peluang pabrikator baja nasional terbuka lebar. Namun, pada kenyataannya pabrikan dalam negeri menghadapi kendala untuk bersaing dengan produk impor.

“Banyak barang impor yang masuk, baik material impor maupun barang jadi impor. Kami sulit bersaing dengan produk impor,” ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (21/12/2017).

Agus menyebutkan barang jadi yang banyak diimpor dari China masuk dengan bea masuk yang rendah dan dipasarkan dengan harga yang murah. Selisih harga material baja dengan produk barang jadi impor sangat tipis, padahal untuk mengolah material baja menjadi barang jadi produsen dalam negeri mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Dia mencontohkan untuk menghasilkan barang jadi, seperti tower listrik, pabrikan harus mengeluarkan biaya untuk membeli baut, melapisi baja siku dengan lapisan anti karat atau galvanized, dan membayar upah tenaga kerja.

“Kami beli material baja misal harganya 9.000, sedangkan harga barang jadi impor 11.000, selisih hanya 2.000. Untuk mengubah material baja menjadi barang jadi, kami harus mengeluarkan biaya ekstra, seperti tenaga kerja 2.000, galvanized 4.000, jadinya harga produk jadi kami lebih mahal,” jelas Agus.

Untuk mendorong pertumbuhan industri pabrikator dalam negeri, Apbindo pada tahun depan berencana untuk mengusulkan proteksi bagi produk domestik ke Kementerian Perindustrian. Asosiasi juga berharap agar penerapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) benar-benar diawasi dan diberi sanksi tegas bagi proyek yang menerapkan TKDN di bawah besaran yang telah ditetapkan.

Dia mencontohkan ada anggota asosiasi yang tidak bisa masuk ke proyek pembangunan jalan tol untuk memasok guardrail karena kalah bersaing dengan produk impor. “Padahal perusahaan tersebut beli plat baja dari Krakatau Steel dan proses galvanized-nya di sini,” ujarnya.

Adapun, Apbindo merupakan asosiasi yang baru terbentuk pada 12 Desember 2017 dan beranggotakan perusahaan-perusahaan yang memproduksi berbagai barang berbahan baku baja, seperti tower listrik, tangki, jembatan besar, crane, dan lainnya.

Beberapa perusahaan yang menjadi pendiri Apbindo antara lain PT Danusari Mitra Sejahtera, PT Cahaya Metal  Perkasa, PT Artha Mas Graha Andalan, PT Mega Karya Sampurna, dan PT Helori Graha Sarana.

Tag : baja
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top