Indonesia dan Jepang Perkuat Kerja Sama Pengembangan IKM

Indonesia dan Jepang memperkuat kolaborasi pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang sudah berlangsung sejak 2013 di berbagai provinsi di Tanah Air. Kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing IKM agar lebih kompetitif di pasar nasional dan global.
Regi Yanuar Widhia Dinnata
Regi Yanuar Widhia Dinnata - Bisnis.com 25 Desember 2017  |  11:34 WIB
Ilustrasi pembuatan perhiasan dari perak oleh pengrajin di Kendalsari, Malang, Jawa Timur, Senin (8/5). - Antara/Ari Bowo Sucipto

‎Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia dan Jepang berkolaborasi dalam mengembangkan Industri Kecil dan Menengah di daerah yang potensial.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dengan‎ Japan International Cooperation Agency (JICA) berkomitmen memajukan industri Tanah Air melalui serangkaian kerja sama di sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM). Direktur Jenderal IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih menyampaikan kerja sama antara Indonesia dan Jepang sudah berlangsung di lima provinsi Tanah Air sejak 2013, dengan nama The Project of Small and Medium Industry Development Based on Improved Service Delivery

Kelima provinsi tersebut, yakni‎ Sumatera Utara untuk program pengembangan produk tenun ulos, Jawa Tengah dengan produk komponen logam, Sulawesi Tengah dengan produk agro seperti cokelat dan rotan, Jawa Timur dengan produk alas kaki, serta Kalimantan Barat dengan produk olahan lidah buaya atau aloe vera

Namun, tahun ini ada lima provinsi lain yang telah menyatakan kesiapannya untuk ikut serta yaitu Bangka Belitung untuk pengembangan produk kerajinan pewter timah di Kabupaten (Kab.) Bangka Barat, Sulawesi Tenggara untuk produk tahu dan tempe di Kab. Konawe Selatan, Sulawesi Selatan dengan kerajinan perak dan emas di Makassar, Papua dengan pengolahan kopi di Kabupaten Dogiyai, serta Jawa Timur untuk industri komponen kapal dan pengecoran logam di Kota Pasuruan.

“Pemilihan daerah untuk pengembangan IKM tersebut didasarkan atas beberapa hal, di antaranya sumber dukungan, pengembangan tema strategis, dan pengembangan tema afirmatif,” terangnya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Senin (25/12/2017).‎‎

Gati menjelaskan dalam pengembangan tema strategis, dibutuhkan penguatan hubungan antara industri pendukung dengan industri skala besar yang diikuti pemberdayaan wirausaha industri, serta pengembangan pasar internasional. ‎Sementara itu, pengembangan tema afirmatif dipertimbangkan pada daerah tertinggal atau perbatasan.

“Maka dari beberapa pertimbangan tersebut, dipilih tiga provinsi yang menjadi target awal program lanjutan ini, yaitu Sulawesi Selatan, Jatim (Jawa Timur), dan Papua,” imbuhnya.

Gati berharap program ini mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing IKM di daerah agar lebih kompetitif di pasar domestik maupun internasional. Untuk itu, pemerintah pusat turut melibatkan pemerintah daerah melalui diseminasi konsep pengembangan klaster dan penempatan fasilitator praktis dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

Tag : ikm
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top