Roy Raymond, Sosok di Balik Bisnis Seksi Victoria Secret

Pada pertengahan tahun 1970, seorang MBA dari Standford, Roy Raymond datang ke sebuah toko untuk membelikan lingerie istrinya. hi
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 16 Februari 2018  |  10:07 WIB

Bisnis.com, JAKARTA-Pada pertengahan tahun 1970, seorang MBA dari Standford, Roy Raymond datang ke sebuah toko untuk membelikan lingerie istrinya.

Namun sayangnya, di sana ia hanya menemukan gaun tidur malam bermotif bunga yang jelek ditambah tatapan dari pegawai toko yang aneh melihatnya memilih pakaian dalam perempuan.

Roymond langsung menyadari bahwa dilihat aneh saat berada di toko pakaian dalam wanita tidak hanya dihadapi oleh dirinya, juga pasti dirasakan oleh para suami atau laki-laki yang ingin memberikan pakaian dalam untuk perempuan yang dikasihnya.

Itulah awal datangnya Ide dibenak Raymond untuk membuat toko pakaian dalam yang dirancang agar para laki-laki yang ingin belanja di tokonya merasa nyaman.

Bergaya victoria

Dalam pikirannya ia memvisualisasikan sebuah toko dengan ruangan bergaya Victoria (gaya Inggris kuno) dengan kayu gelap di segala sisi, karpet oriental di lantainya dan kain sutra sebagai tirainya. Akhirnya dalam perwujudan Idenya ia memilih untuk menggunakan nama “Victoria” di mana dimaksudkan untuk menghormati era Victoria dan “Secret” sebagai bagian pelengkap yang bermakna ada Rahasia si Victoria.

Idenya tersebut dia wujudkan pada tahun 1997 bersama sang Istri, Gaye Raymond. Bermodalkan tabungan dan pinjaman pada keluarganya serta bank yang jika ditotal sebesar US$80.000, Dia dan Istrinya menyewa sebuah toko kecil di Palo Alto, California dan di sanalah Victoria’s Secret lahir.

Untuk memahami betapa berharganya Ide Raymond ini, ada baiknya jika kita mengetahui bagaimana pakaian dalam di pandang di Amerika Serikat. Pada 1950-1960an, pakaian dalam wanita berfungsi biasa saja, hanya dikenakan sehari-hari dilihat dari kepraktisan dan daya tahannya. Sedangkan Lingerie, atau pakaian dalam yang seksi, dikenakan untuk bulan madu atau saat hari peringatan bagi pasangan.

Itu mengapa ide tentang Victoria’s Secret sangat penting. Victoria’s Secret mengubah pandangan bahwa pakaian dalam itu hanya sesuatu yang biasa saja. Sejak dipasarkan, brand ini menjangkau hampir ke semua pelanggan di seluruh negeri dengan katalog yang dibuat oleh Raymond dalam pengenalan usahanya.

Berkat idel brilian tersebut, bisa kita lihat tidak hanya di Amerika, toko-toko Victoria Secret sudah menjamur hampir ke seluruh bagian dunia. Bahkan fashion show brand ini selalu menjadi topik panas untuk dibicarakan di setiap tahunnya.

Kembali lagi ke Raymond, selama lima tahun Victoria’s Secret didirikan, Raymond berhasil menambah toko Victoria’s Secret menjadi 6 toko. Pada 1982, Victoria’s Secret sudah memiliki pendapatan sebesar US$6 juta pertahun.

Berpindah tangan

Pada awal 1980-an, Leslie Wexter founder pakaian olahraga L Brand yang waktu itu bernama The Limited datang ke ke San Francisco, di sana dia mengunjungi toko Victoria's Secret.

"Itu adalah sebuah toko kecil, dan itu adalah Victorian - bukan Victoria Inggris, tapi rumah bordil Victorian dengan sofa beludru merah," kata Wexner kepada Newsweek pada tahun 2010. "Tapi ada pakaian dalam yang sangat seksi, dan saya tidak melihat yang seperti itu di Amerika"

Wexner dengan cepat melihat apa yang salah dengan model bisnis Victoria’s Secret, dia melihat Raymond hanya memusatkan perhatian pada toko dan katalog yang menarik perhatian pria, itu yang membuat Victoria’s Secret kurang menarik perhatian bagi pelanggan perempuan.

Wexner yang melihat adanya potensi bisnis yang besar dari Victoria’s Secret memutuskan untuk membelinya dari Raymond dengan harga sekitar US$1 juta.

Ditangan Wexner, Victoria’s Secret berkembang pesat, pada awal 1990-an Victoria’s Secret mendapatkan keuntungan sebesar US$1 miliar.

My Child Destiny

Selama satu tahun setelah kepemilikan Victoria’s Secret berpindah tangan, Raymond sempat menjadi CEO Victoria’s Secret.

Namun, pada akhirnya dia memutuskan keluar dari Victoria’s Secret untuk membangun My Child's Destiny sebuah perusahaan ritel yang memproduksi katalog dan pakaian untuk anak-anak kelas atas. Perusahaan baru besutannya ini berbasis di San Francisco.

Sayangnya, Raymond seperti kehilangan tangan emasnya, My Child’s Destiny tidak sesukses Victoria’s Secret. Hal tersebut disebabkan karena strategi pemasaran yang buruk dimana hanya berfokus untuk menarik perhatian orang tua yang berpenghasilan tinggi dan lokasi toko yang tidak strategis.

Pada 1986 My Child’s Destiny bangkrut. Dan membuatnya terlilit hutang, Raymond kehilangan dua rumah dan mobilnya. Tak menyerah, dia sempat membangun usaha toko buku anak-anak, namun lagi-lagi kegagalan menyapanya.

Perceraian

Tahun 1993 menjadi tahun yang berat bagi Ayah dari dua orang anak ini. Pada tahun tersebut, Raymond yang depresi karena kegagalan bisnisnya tidak bisa lagi mempertahankan rumahtangganya dengan Gaye, akhirnya mereka memutuskan untuk menjalani hidup masing-masing dengan perceraian. Sepertinya laki-laki kelahiran 15 April 1947 ini sudah merasa berada pada titik terendah dalam hidupnya, pada Agustus di tahun yang sama, dia memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan Golden Gate, San Fransisko.

Raymond menjadi contoh dari sekian banyak pria yang menurunkan gengsinya untuk menunjukkan perhatian terhadap perempuan yang dicintainya, sehingga mampu memiliki ide yang brilian dalam membangun usaha dari pengalaman kecilnya.

Sayang, naluri Raymond yang cepat puas dan implementasi terhadap bisnisnya tidak stabil seperti menjadi peringatan para pengusaha, bahwa ide brilian saja tidak cukup, butuh visi, misi, keterampilan, dan keteguhan hati yang kuat untuk sukses dalam mengembangkan usaha.

Tag : victoria\'s secret
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top