LAYANI KONSUMEN MILENIAL, Peritel: Produk Pajang Harus Lebih Cepat Berganti

Anton Wirjono, Pendiri The Goods Dept dan CEO PT Cipta Retail Prakarsa, mengatakan dengan kebutuhan pelanggan maka peritel harus dapat menyesuaikan dengan bisa hadir dimana-mana.
Agne Yasa | 18 Februari 2018 19:59 WIB
Ilustrasi. - .Usseek

Bisnis.com, JAKARTA – Anton Wirjono, Pendiri The Goods Dept dan CEO PT Cipta Retail Prakarsa, mengatakan dengan kebutuhan pelanggan maka peritel harus dapat menyesuaikan dengan bisa hadir dimana-mana.

Selain meningkatkan pemasaran secara daring, pada tahun  ini, Anton mengungkapkan pihaknya masih berencana melakukan ekspansi toko fisik. Namun, dia tidak bersedia berapa investasi yang disiapkan untuk ekspansi toko ini.

“Buka toko fisik itu lumayan karena capex nya untuk sewa, mahal, makanya di era sekarang kami lebih hati-hati untuk membuka toko, melihat perkembangan tahun ini, makanya kami investasi ke online juga.

Anton mengungkapkan rencananya ekspansi toko akan dilakukan di beberapa titik di Jakarta tetapi pihaknya juga sedang melihat kemungkinan untuk membuka toko di luar kota Jakarta dan ada keinginan untuk membuka di luar negeri.

“Toko mungkin bisa nambah tiga atau empat, tidak banyak tapi secara produk akan dikuatkan lagi, kolaborasi. Nanti channel online nya akan dikuatkan lagi,” ujarnya.

Untuk format toko, menurutnya saat ini yang ideal untuk The Goods Dept yaitu dengan ukuran sekitar 500 meter persegi, sehingga terdapat ruang untuk cafe dan menyelenggarakan event.

“Kalau toko harus di dalam mal, di luar negeri beda, di Indonesia masih mal, saya rasa tidak akan seperti di luar negeri ya mal mati,” ujarnya.

Untuk produk, Anton mengungkapkan kategori produk fesyen dan sepatu (sneakers) masih menjadi produk andalan dari The Goods Dept baik itu untuk kategori pelanggan perempuan maupun laki-laki. The Goods Dept memiliki target pelanggan berusia 18-35 tahun, yang merupakan generasi milenial.

“Saya rasa ke depan, pakaian, di era Insntagram, milenial, bajunya harus lebih cepat ganti, karena keluar di sosial media. As a retailer kita mesti adjust juga, dari cepatnya bisa keluarin barang,” ujarnya.

Menurutnya, jika dulu koleksi pakaian keuar dalam hitungan bulan, maka saat ini harus lebih cepat karena The Goods Dept yang mengusung 70% produk lokal ini harus berhadapan dengan fast retail dunia.

“Ini brand-brand Indonesia harus melawan mereka dan harus cepat juga seperti mereka,” ujarnya.

Anton mengungkapkan, pada 2017 bisnis The Goods Dept masih tumbuh secara baik meskipun kondisi ritel disebut sedang lesu.

“Dobel digit, pertumbuhan bisnisnya,” ujarnya.

Memiliki target market dengan rentang usia 18-35 tahun ini, The Goods Dept terus berupaya tetap relevan dengan sasaran pelanggannya. Melihat konsumen milenial yang ingin serba cepat maka The Goods Dept berupaya merepons secara cepat pula.

“Kami selalu mengupayakan menghadirkan barang-barang yang sesuai, dari sneakers, baju cewek. kami harus bisa merespons, kalau tidak bisa cepat akan ketinggalan,” ujarnya.

Menurutnya, milenial merupakan target market yang menarik secara dinamika karena perubahannya paling cepat. Dimana generasi ini juga paling cepat mengadopsi hal-hal baru secara fesyen dan teknologi.

“Jadi kami paling tertarik sama target marketnya, mereka juga paling sering belanja, menurut kami,” ujarnya.

Untuk tetap relevan, The Goods Dept banyak bekerja sama dan berkolaborasi dengan target marketnya, tidak hanya individu tetapi juga komunitas.

“Itu yang paling authentic, makanya kami harus jadi yang paling otentik bagi milenial sekarang. Jadi yang kami kerjakan harus secepat yang mereka mau,” ujarnya.

Selain kecepatan, perusahaan The Goods Dep juga memiliki misi untuk mengena di milenial dengan lokal brand yang diusung.

“Kami mendukung brand baru, brand kreatif yang sebenarnya mereka tidak punya arena untuk berkompetisi, berjualan, platformnya tidak ada. Kami jadi platform untuk mereka jadi lebih besar.

Jadi memang dari purposenya harus kuat juga,” ujarnya.

Anton mengatakan kategori terbesar yang menjadi favorit pelanggan saat ini adalah fesyen untuk pakaian atasan. Menurutnya, hal ini dipengaruhi dengan era sosial media, dimana dibutuhkan harga pakaian yang terjangkau dan menarik.

“Tapi yang pasti sepatu jadi passion orang, harga Rp2 juta-Rp3 juta tetap dibeli, sepatu yang ada ceritanya, entah itu kolaborsi maupun limited edition,” katanya.

Tag : belanja
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top