Perundingan IEU-CEPA Digelar 19 Hingga 23 Februari 2018

Perundingan keempat Indonesia European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement akan dilaksanakan mulai hari ini, Senin (19/2/2018 ) hingga 23 Februari di Solo Jawa Tengah. Perundingan tersebut diharapkan dapat mengakomodir rekomendasi yang disampaikan pengusaha kepada pemerintah.
Rayful Mudassir | 18 Februari 2018 19:36 WIB
Aktivitas bongkar muat di terminal peti kemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu petang (6/12). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Perundingan keempat Indonesia European Union – Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) akan dilaksanakan mulai hari ini, Senin (19/2/2018 ) hingga 23 Februari di Solo Jawa Tengah. Perundingan tersebut diharapkan dapat mengakomodir rekomendasi yang disampaikan pengusaha kepada pemerintah.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani mengatakan kesepakatan antara RI dan Uni Eropa setidaknya akan memberikan tiga dampak, yakni liberalisasi market akses, fasilitasi perdagangan dan capasity building seperti economic corporation.

“Dari segi liberalisasi kami melihat memang market akses terutama untuk sektor padat karya seperti tekstil dan sepatu sudah sangat penting untuk Indonesia agar berkompetisi terutama dengan Vietnam,” kata Shinta kepada Bisnis akhir pekan lalu.

Di samping itu beberapa sektor lain seperti produk makanan dan minuman juga membutuhkan kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa. Hal ini agar Indonesia dapat bersaing dengan negara lain yang telah lebih dulu mencapai sekarat dengan UE.

Saat ini Vietnam telah mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa sehingga mendapat tarif cukup rendah sampai tidak dikenai tarif untuk produk yang diekspor ke kawasan itu. Akibatnya Indonesia mulai tertinggal akibat masih dikenai tarif komoditas sekitar 11%.

Hingga kini hanya Vietnam dan Singapura yang telah menyelesaikan CEPA dengan Eropa. Selebihnya Indonesia, Thailand serta Filiphina masih dalam pembahasan untuk mencapai kesepakaran tersebut. RI sendiri baru memasuki putaran keempat perundingan, sementara Vietnam harus menempuh delapan kali runding agar deal dengan Uni Eropa.

“Kalau jalan perjanjian itu bukan hanya tentang trade in goods, ada trade in sevices, investment dan ada hal-hal yang lain yang menjadi pertimbangan,” paparnya.

Sebelum dimulainya perundingan tersebut, antara Kamar Dagang dan Industri, Asosisasi Pengusara Indonesia dan Eurocham telah memberikan rekomendasi pada private sector untuk dibahas pemerintah dengan Uni Eropa.

Apindo dan Kadin merekomendasikan tentang proposal early outcomes untuk produk sektor apparel dan alas kaki yang untuk ekspor ke Uni Eropa. Kata dia, industri padat karya terutama dua komoditas tersebut tidak akan mampu bersaing dengan negara seperti Vietnam jika tidak mendapatkan proposal tersebut.

Adapun EuroCham lebih kepada short-term foreign worker. Shinta menyebut, kemungkinan Eropa akan trade off pada penghapusan tarif apparel dan footwear. Selain itu akan ada pula rekomendasi klarifikasi isu palm oil terkait resolusi terbaru Parlemen Uni Eropa tentang energi terbarukan.

“Ini masukan private sector ke pemerintah untuk menjadi bahan negosiasi,” kata Shinta

Di samping itu pihaknya optimistis Uni Eropa akan menjalin kerjasama dengan Indonesia. Pasalnya Indonesia dipandang tidak hanya sebagai lahan kerjasama dagang namun juga investasi. Apalagi dengan pangsa pasar luas dengan populasi 260 juga penduduk menjadikan nilai tambah untuk Benua Biru.

Sebelumnya pekan lalu Menteri Perdagangan Engkan manfaatkan betul gartiasto Lukita Pemerintah RI dan Uni Eropa bakal membahas banyak hal untuk memuluskan kesepakatan antar kedua negara. Kesepakatan tersebut ditargetkan pemerintah dapat tercapai pada November 2018.

“Banyak sekali yang di bahas, kita bahas trade in goods-nya, servicesnya. Banyak sekali yang di bahas, sampai titik koma,” kata Enggartiasto di Hotel Aryaduta, Jakarta.

Menurutnya, rencana eropa untuk mem-phase out komoditas turunan kelapa sawit yakni biodiesel diyakini tidak akan mengganggu proses perundingan untuk menyepakati perjanjian IEU-CEPA.

“Tidak ada urusannya itu [dengan penghapusan biodiesel]. Itu kan tentang perjanjian perdagangan antara negara Eropa dan Indonesia,” jelasnya.

Ketua Umum Apindo Hariyadi B Sukamdani meminta pemerintah untuk memanfaatkan kesempaatn itu dengan menyelesaikan sejumlah persoalan yang menyangkut tentang perdagangan termasuk tentang ekspor kelapa sawit. Diharapkan kedua negara dapat mencapai titik temu pada pertemuan ini.

“IEU CEPA paling ditunggu-tunggu, jika Indonesia tidak dapat lebih baik dengan Vietnam, maka paling tidak harus sama dengan negara kompetitor,” kata Hariyadi kepada Bisnis, Minggu (18/2/2018).

Menurutnya, Indonesia akan mendapat potensi yang cukup menjanjikan dengan kesepakatan IEU CEPA. Pasarnya kawasan tersebut terdiri dari banyak negara dan populasi manusia yang tidak sedikit. Apalagi antara RI dan Uni Eropa telah lama menjalin hubungan dagang.

 “Insyaallah akan bisa tercapai di 2018. Semoga cepat selesai, namun harus di posisi menguntungkan, jangan sebaliknya,” papar Hariyadi.

 

Tag : ekspor
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top