Industri Berbasis Agro Perlu Diversifikasi

Diferensiasi atau pengelompokan industri berdasarkan tujuannya menjadi salah satu hal yang penting dalam memajukan sektor agro industri dalam negeri.
Juli Etha Ramaida Manalu | 18 Februari 2018 15:04 WIB
/ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA— Diferensiasi atau pengelompokan industri berdasarkan tujuannya menjadi salah satu hal yang penting dalam memajukan sektor agro industri dalam negeri.

Hal ini disampaikan oleh pakar dari IPB yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi.

“Industri agro kita itu secara garis besar bisa dibedakan dengan industri agro yang memang berorientasi ekspor dan industri agro yang berorientasi domestik,” katanya belum lama ini.

Bayu menjelaskan bahwa saat ini, industri agro masih menjadi satu-satunya basis ekspor Indonesia dengan tingkat kandungan dalam negeri (domestic content) mencapai lebih dari 80%.

Kendati demikian, Indonesia juga tak boleh lupa dengan pemenuhan di pasar domestik yang ada. Menurut Bayu, perhatian untuk sektor pertanian yang pada umunya hanya berorientasi untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih tidak sebanding dibandingkan dengan produk berorientasi ekspor.

“If we don’t take care our own market then somebody will take care for us. Itu penting banget,” tambah Bayu.

Dia memberi contoh komoditas singkong yang saat ini dinilai kurang mendapat perhatian. Padahal, jika dilihat lebih jauh, permintaan akan singkong sebagai bahan baku dalam industri agro sangat besar.

Namun, perlakuan yang diberi pada tanaman ini, sama seperti beberapa jenis tanaman lain, kerap tidak maksimal. Pasalnya, tanaman singkong, kata Bayu, memebutuhkan waktu hingga sembilan bulan untuk bisa dipanen.

Dengan demikian, petani baru bisa mendapatkan untuk dari hasil tanaman mereka sembilan bulan setelah ditanam yang berakibat petani akan meninggalkan tanamannya untuk mencari sumber pendapatan lain guna memenuhi kebutuhan sehari hari. Alhasil, produk yang didapatan berpotensi besar menjadi kurang maksimal baik dari segi kualitas dan kuantitas.

Padahal, seperti disebutkan Bayu, permintaan produk singkong sebagai bahan baku di dalam negeri sangat bersar.

“Dia [petani] dapat duitnya 9 bulan sekali, terus kita nggak mikirin cash flow-nya dia bagaimana, akhirnya yang terjadi? Dia tanam, dia tinggal, Natural lah! Harusnya kita pikirkan bagaimana caranya cash flow. Jadi industri berbasis agro untuk kepentingan domestik sangat sangat petning diperhatikan selain yang berorientasi ekspor,” imbaunya.

Tag : pertanian, agro industri
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top