RI dan China Kompak Hadapi Ancaman Delisting Rumput Laut

Eksportir rumput laut Indonesia bersatu dengan China menghadapi upaya Amerika Serikat mencoret karaginan dari daftar bahan pangan organik. Jika tak diperjuangkan, delisting dapat mengancam ekspor produk setengah jadi rumput laut itu.
Sri Mas Sari | 19 Februari 2018 13:02 WIB
Petani rumput laut memeriksa tanaman rumput laut di Pantai Ujungnge, Bone, Sulawesi Selatan, Selasa (31/10). - ANTARA/Yusran Uccang

Bisnis.com, JAKARTA -- Eksportir rumput laut Indonesia bersatu dengan China menghadapi upaya Amerika Serikat mencoret karaginan dari daftar bahan pangan organik. Jika tak diperjuangkan, delisting dapat mengancam ekspor produk setengah jadi rumput laut itu.

Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Aziz mengatakan eksportir rumput laut Indonesia dan China tengah melobi AS melalui Kamar Dagang AS (US Chamber of Commerce). China Algae Industry Association (CAIA) diketahui telah berkirim surat kepada US Chamber.

Pelaku usaha dari kedua negara juga sedang mengagendakan pertemuan dengan berbagai pihak yang berkepentingan.

"ARLI akan membicarakan dengan importir dan pengguna karaginan tentang program sosialisasi dan promosi tentang rumput laut dan karaginan di AS untuk memberikan isu positif," kata Safari, Senin (19/2/2018).

Diaspora Indonesia di Negeri Paman Sam diharapkan pula ikut menyampaikan citra positif melalui berbagai media, termasuk media sosial.

Selain dengan China, Indonesia juga sedang menggalang kekuatan dengan beberapa negara produsen rumput laut di Asean, Afrika, dan Oseania. Khusus Oceania, tutur Safari, komunikasi tentang perkembangan budi daya rumput laut di Asia Pasifik telah dilakukan dengan Republik Nauru, Fiji, dan Mikronesia.

"Itu agenda yang sedang dan akan kami kerjakan awal Maret," kata Safari.

Indonesia mengekspor rumput laut Euchema dan Gracilaria kering sebanyak 50% dari kebutuhan dunia, yang 70% di antaranya dikapalkan ke China. Berdasarkan data BPS, Indonesia mengekspor 137.859 ton rumput laut dan ganggang lainnya senilai US$113,8 juta ke berbagai negara sepanjang Januari-Oktober 2017. China menyerap 117.795 ton senilai US$95,2 juta.

Mengimpor produk rumput laut dari Indonesia, Negeri Tirai Bambu lantas mengekspor karaginan ke AS dan Eropa. Apabila rencana delisting berhasil digolkan, maka ekspor rumput laut Indonesia secara tidak langsung mengalami kesulitan.

Departemen Pertanian AS akan mengeluarkan keputusan pada November 2018. Keputusan itu akan menentukan apakah karaginan tetap berada dalam atau keluar dari daftar bahan pangan organik National Organic Standards Board (NOSB). Pelaku usaha berharap karaginan akan mengikuti jejak agar-agar yang lolos dari ancaman pencoretan dari daftar bahan pangan anorganik.

Indonesia, tutur Safari, akan terus menyampaikan pembelaan bahwa rumput laut dikembangkan di pesisir dan pulau-pulau yang perairannya bersih. Budi daya yang tidak menggunakan pupuk dan berlangsung alamiah juga diharapkan menjadi argumentasi kuat untuk tetap menempatkan rumput laut sebagai bahan pangan organik.

Tag : rumput laut
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top