Patungan Rp15 Juta, Bisa Internetan Pakai Satelit Pertengahan 2018

Digicoop menargetkan satelit Satelit Milik Rakyat (Satria) meluncur pada medio 2018.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 20 Februari 2018  |  06:58 WIB
Parabola Satelit (bloomberg)

Bisnis.com, JAKARTA — Digicoop menargetkan satelit Satelit Milik Rakyat (Satria) meluncur pada medio 2018. Pada tahap awal, penduduk Indonesia bisa urun dana untuk membayar biaya sewa satelit penyedia akses internet tersebut.

Ketua Digicoop Henri Kasyfi Soemartono mengatakan satelit rakyat yang akan diluncurkan terdiri dari tiga bagian dari sisi kepemilikannya. Khusus untuk tahap pertama saat ini masih dalam tahap persiapan teknis.

Pada fase pertama, yang rencananya dimulai tahun ini, satelit yang digunakan merupakan satelit sewa atau yang kepemilikannya masih lebih rendah dari 50%. Biaya nantinya ditanggung para pihak yang berminat.

"Dari tahun ini, tahun 2018. Kuartal I mudah-mudahan paling lambat kuartal II," ujarnya usai menghadiri rilis hasil survei APJII di Hard Rock Cafe, Jakarta, Senin (19/2/2018).

Menurutnya, setelah fase pertama direalisasikan, pengembangan satelit rakyat akan naik ke fase kedua dengan porsi kepemilikan yang lebih besar yakni menyentuh 50%. Terakhir, pada 2020, satelit akan beroperasi dengan kepemilikan secara penuh.

Henri berujar satelit milik rakyat harus dimulai tahun ini. Pasalnya, fungsi satelit menjadi penting mengingat masih minimnya infrastruktur di Tanah Air untuk menjamin konektivitas. Satelit dianggap menjadi solusi bagi wilayah-wilayah yang tak terjamah jaringan kabel. 

Di sisi lain, masih terdapat anggota asosiasi penyelenggara jasa internet Indonesia (APJII) yang tak mampu memiliki last mile atau titik paling hilir dalam jaringan telekomunikasi yang menghubungkan dengan pengguna.

Dari data Kementerian Komunikasi dan Informatika per Januari 2018, BTS yang terpasang terdapat 133.000 unit untuk menyediakan jaringan 2G, 171.000 Node B untuk jaringan 3G, dan 55.000 eNode B untuk jaringan 4G. Untuk Palapa Ring, cakupannya sebesar 95,09% di wilayah Indonesia barat, 7,96% di wilayah tengah dan timur dengan 32,76%.  

"Fase kedua, satelit yang setengah-setengah kepemilikannya. Ketiga yang menggunakan satelit yang benar-benar milik kita sendiri, masa ketiga itu di tahun 2020," katanya.

Porsi kepemilikan pada satelit, katanya, akan berdampak pada sisi operasi yakni kecepatan transfer yang lebih tinggi. Selain itu, dari sisi biaya juga akan lebih murah. 

Dari sisi besar modal yang dibutuhkan untuk mengadakan satelit ini, dia menyebut perlu dana sebesar Rp300 triliun. 

Kendati demikian, dia menuturkan sulit untuk menggambarkan berapa dana yang harus dialokasikan pada tahap pertama hingga tahap ketiga karena sangat tergantung tarif yang dikenakan vendor yang nantinya terlibat.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, telah terdapat skema pembiayaan bagi masyarakat yang tertarik untuk bergabung dalam kepemilikan satelit, Digicoop membanderol dengan harga Rp15 juta selama 10 tahun. Sementara untuk pemakaian bulanan, Digicoop menerapkan harga yang variatif mulai dari Rp500.000. 

"Sewa atau beli dari negara lain. Saya enggak bisa bilang berapa persen pastinya. Satu satelit itu Rp300 triliun tapi itu fase ketiga, 2020," kata Henri.

Tag : satelit
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top