Pengguna Aplikasi Berbayar di Indonesia Rendah

Penetrasi pengguna aplikasi berbayar di Indonesia saat ini masih cenderung rendah, yakni hanya 11,41% dari total pengguna internet Indonesia yang mencapai 143,26 juta orang.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 20 Februari 2018  |  08:30 WIB
Model mencoba aplikasi produk unitlink baru bernama FWD Loop, Senin (12/2). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Penetrasi pengguna aplikasi berbayar di Indonesia saat ini masih cenderung rendah, yakni hanya 11,41% dari total pengguna internet Indonesia yang mencapai 143,26 juta orang.

Hal tersebut tercantum dalam Survei Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2017 yang dikeluarkan Asosiasi Penyedia Jaringan Internet Indonesia (APJII), Senin (19/2/2018). Adapun untuk penetrasi pengguna aplikasi berlangganan lebih rendah lagi yakni hanya 6,29%.

Sekretaris Jenderal APJII Henri Kasyfi mengatakan pihaknya belum memiliki data mengenai alasan di balik rendahnya penetrasi pengguna aplikasi berbayar dan berlangganan tersebut. Namun, APJII tengah berkoordinasi dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk hal tersebut.

“Itu jadi pekerjaan rumah selanjutnya, isu-isu yang terkait Bekraf kami koordinasikan dengan mereka,” ujarnya.

APJII juga mencatat, berdasarkan level ekonomi, komposisi pengguna internet didominasi oleh Socio-Economy Status (SES) bawah dengan porsi mencapai 74,62%. Hal ini mengindikasikan mayoritas pengguna internet di Indonesia memiliki daya beli yang cenderung rendah.

Dihubungi terpisah, CEO wALi Studio Fauzil Hamdi menilai jumlah persentase tersebut sebetulnya sebuah angka yang cukup baik.

“Kalau secara persentase memang kecil hanya sekitar 11%, tapi kalau secara jumlah 15 juta pengguna itu besar,” tuturnya.

Dia juga menyatakan meski mayoritas pengguna internet di Indonesia berasal dari SES rendah, tapi mereka masih punya daya beli. 

“Artinya mereka punya kemampuan, cuma agak rendah. Jadi sebaiknya kalau menggunakan paid feature, bisa dibuat skema harga yang cukup terjangkau,” tambahnya.

Faizul menjelaskan kebanyakan aplikasi buatan lokal merupakan aplikasi freemium, yakni aplikasi yang bisa dipasang secara gratis tapi dikenakan biaya jika pengguna ingin menikmati fitur premium.

Tag : aplikasi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top