Utilitas Produksi Pabrik Keramik Dalam Negeri Naik Jadi 85%

Utilitas pabrikan keramik di dalam negeri yang belum maksimal diharapkan dapat terus naik dari posisi saat ini yang berada pada tingkat 70%Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramaik Indonesia (Asaki) Elisa Sinaga mengungkapkan hal tersebut pada Bisnis.com di Jakarta, Selasa (20/2/2018).
Andry Winanto
Andry Winanto - Bisnis.com 20 Februari 2018  |  20:20 WIB
Pabrik keramik Arwana Citra Mulia Tbk - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Utilitas pabrikan keramik di dalam negeri yang belum maksimal diharapkan dapat terus naik dari posisi saat ini yang berada pada tingkat 70%

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramaik Indonesia (Asaki) Elisa Sinaga mengungkapkan hal tersebut pada Bisnis.com di Jakarta, Selasa (20/2/2018).

“Saat ini utilitas pabrik di dalam negeri masih kecil, kami ingin tahun ini bisa naik sampai 80% sampai dengan 85%,” ujarnya.

Menurut Elisa, peningkatan tersebut diharapkan dapat disokong oleh pertumbuhan properti yang sudah mulai menggeliat pada tahun ini. Pasalnya, industri keramik tidak bisa lepas dari peningkatan jumlah hunian karena menjadi salah satu elemen pendukung properti.

Industri keramik nasional, tutur Elisa, pernah melalui salah satu masa produksi tertinggi yang pernah dicapai, yaitu pada akhir 2014. Saat itu, produksi keramik bisa menembus angka 520 juta meter persegi pertahunnya. Adapun, untuk pemenuhan pasar ekpor maupun produk keramik yang diimpor tergolong sama besar, yakni masing-masing sekitar 20 juta meter persegi.

“Produksi keramik saat ini kira-kira 360 juta meter persegi, ditambah impor 60 juta meter persegi. Sementara keramik yang diekspor itu cuma 20 juta meter persegi. Jadi demand di dalam negeri itu hanya 400-an juta meter persegi,” terangnya.

Dia mengingatkan, para pelaku industri keramik hendaknya menjalankan prinsip untuk menjadi industriawan sejati. Pasalnya, banyak di antara mereka yang menurunkan kapasitan produksinya tetapi tidak berkurang secara volume pendistribusian.

Elisa menduga, kekurangan tersebut dipenuhi oleh produk impor dengan mempertimbangkan cost produksi tertentu yang mungkin lebih efisien.

“Kalau industriawan sejati kan berbeda denagan pebisnis. Kami harus memikirkan bagaimana menyerap tenaga kerja, menggunakan bahan baku lokal, dan lain-lainnya,” katanya.

Tag : industri keramik
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top