Bulog: Beras Impor Tak Pengaruhi Penurunan Harga

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti menuturkan beras impor tidak berpengaruh banyak dalam penurunan harga.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 21 Februari 2018  |  22:46 WIB
Pekerja memindahkan karung berisi beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (19/1). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Perum Bulog berpendapat beras impor tidak berpengaruh banyak dalam penurunan harga, demikian dikemukakan direktur utamanya, Djarot Kusumayakti.

Pasalnya, menurut dia, beras impor hanya digunakan untuk memperkuat cadangan beras pemerintah yang hingga kini hanya bersisa sekitar 600.000 ton. Padahal cadangan aman nasional sekitar 1,5 juta ton.

“Beras impor itu kan disimpan dan nanti baru dikeluarkan setelah ada putusan dari Rakortas, kapannya ya tergantung kondisi,” kata Djarot pada Rabu (21/2/2018).

Sebelumnya Bulog ditargetkan mengimpor beras 500.000 ton. Namun hanya dapat direalisasikan 281.000 ton. Kendati demikian, Bulog tetap menunggu penugasan dari regulator. Bulog tidak dalam posisi sebagai penentu impor. Pihaknya hanya melaksanakan penugasan. “Jadi sepenuhnya kebijakan regulator.”

Dari catatan Bulog, hingga 19 Februari total beras yang masuk ke gudang atau sudah berada di perairan Indonesia berjumlah 137.250 ton. Pada gelombang pertama telah dipasok beras 57.000 dibagi di tiga pelabuhan yakni Tenau Kupang 10.000 ton, Indah Kiat Merak 6.000 ton, dan Tanjung Priok 41.000 ton.

Selanjutnya pada gelombang kedua total 74.750 ton dilabuhkan pada beberapa pelabuhan lain yakni Pelabuhan Tanjung Perak Jawa Timur 20.000 ton, Tanjung Priok 30.000 ton, Panjang Lampung 25.500 ton, dan Benoa Bali 4.740 ton.

Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan penurunan harga beras terjadi karena beberapa faktor, yakni dimulainya panen di sejumlah wilayah, penyaluran rastra dan bantuan sosial, impor beras, dan operasi pasar yang terus dilakukan pemerintah.

Tag : Beras impor
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top