Bauxite Club Buka Peluang Kerja Sama Negara Asia-Afrika

Rencana dilaksanakannya forum dialog antar negara-negara kaya mineral khususnya komoditas bauksit melalui Bauxite Club dinilai akan membuka peluang usaha dan kerja sama di bidang infrastruktur pertambangan antar negara anggota.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 22 Februari 2018  |  11:36 WIB
Penambangan bauksit. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana dilaksanakannya forum dialog antar negara-negara kaya mineral khususnya komoditas bauksit melalui Bauxite Club dinilai akan membuka peluang usaha dan kerja sama di bidang infrastruktur pertambangan antar negara anggota.

Ketua Kelompok Kerja Pembiayaan, Infrastruktur dan Logistik Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Sony B. Harsono mengungkapkan dengan adanya Bauxite Club maka peluang kerja sama dan pertukaran teknologi antar negara-negara anggota akan semakin terbuka.

“Khususnya menyangkut peluang usaha di sektor infrastruktur pertambangan,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Kamis (22/2/2018).

Pembentukan Bauxite Club merupakan inisiatif dari Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan agar meningkatkan kerja sama pertambangan negara-negara di kawasan Asia-Afrika.

Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Atmadji Sumarkidjo menegaskan untuk meningkatkan kerja sama antar negara, maka Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Kemaritiman akan memberikan dukungan bagi para pelaku usaha, khususnya pelaku usaha yang merupakan produsen mineral.

“Tentu, kami akan mendukung penuh untuk meningkatkan kerja sama antar negara di kawasan Asia-Afrika,” ujarnya.

Untuk langkah awal, rencananya akan dibentuk Intergoverment Forum Dialogue antara negara-negara kaya mineral khususnya yang memproduksi bauksit melalui Bauxite Club pada tahun ini, yang akan diikuti oleh forum dialog mineral lain pada masa yang akan datang.

Forum dialog tersebut akan membahas pertukaran informasi tentang kebijakan pertambangan, kebijakan pengelolaan produksi dan ekspor, kebijakan pengelolaan lingkungan, kebijakan tentang hilirisasi, kebijakan pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia serta kerjasama perdagangan, investasi dan alih teknologi.

Chairman Asia Africa Business Alliance Didie Soewondho menambahkan forum tersebut akan memiliki peran strategis dalam tatanan global dan turut menyumbangkan kemajuan dan keadilan dunia.

“Ini menjadi sangat penting bagi kemajuan negara negara Asia Afrika. Sudah saatnya negara negara kaya mineral Asia Afrika bergabung, meningkatkan nilai tambah dalam negeri seperti yang telah dilaksanakan oleh Pemerintahan Presiden Jokowi–JK sekarang ini,” tuturnya.

Didie menilai dinamika geopolitik dunia saat ini mengharuskan Indonesia tetap melihat Afrika sebagai salah satu sahabat dan partner perdagangan serta investasi masa kini dan masa depan. Apalagi, Indonesia adalah salah satu pencetus Gerakan Asia Afrika yang dipelopori Presiden Soekarno 53 tahun yang lalu.

Menurutnya, hingga saat ini semangat Asia Afrika tetap dihargai dan menjadi perekat kerja sama tersebut.

Oleh karena itu, Didie menilai salah satu kerja sama yang bisa dikembangkan adalah membentuk kerjasama negara-negara kaya sumber daya alam terutama pertambangan. Apalagi, Indonesia berhasil meningkatkan nilai tambah sektor mineral khususnya bauksit dan nikel.

Keberhasilan tersebut telah diapresiasi oleh negara-negara Afrika seperti dinyatakan oleh Menteri Kerjasama Investasi Republik Guinea Ibrahima Kassory Fofana pada kunjungan ke Indonesia beberapa waktu lalu. Seperti diketahui, Republik Guinea adalah negara dengan cadangan bauksit nomor empat terbesar di dunia setelah Rusia, China dan Brazil.

“Dalam waktu dekat akan diadakan kunjungan dan pertukaran delegasi sebagai advance team untuk menyiapkan Forum Dialog tersebut,” pungkas Didie.

Tag : pertambangan
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top