Peran Perempuan di Industri STEM Ditingkatkan

Semua kalangan baik itu pemerintah, bisnis, dan masyarakat dinilai memiliki peranan penting dalam meningkatkan partisipasi perempuan dalam industri science, technology, engineering, dan mathematics (STEM).
Agne Yasa
Agne Yasa - Bisnis.com 22 Februari 2018  |  21:03 WIB
Ilustrasi. - .

Bisnis.com, JAKARTA -- Semua kalangan baik itu pemerintah, bisnis, dan masyarakat dinilai memiliki peranan penting dalam meningkatkan partisipasi perempuan dalam industri science, technology, engineering, dan mathematics (STEM).

Fuad Sahid Lalean, Managing Director-Resources, Technology Consulting, Accenture Indonesia, mengatakan keterlibatan perempuan dalam industri STEM harus ditingkatkan apalagi di Indonesia.

"Keterlibatan perempuan semakin besar akan meningkatkan kinerja, untuk itu semua pemangku kepentingan harus berkomitmen," jelasnya, Kamis (22/2/).

Fuad mengungkapkan partisipasi perempuan di industri STEM dapat ditingkatkan dengan beberapa upaya mulai dari edukasi, dorongan perusahaan, hingga pemerintah untuk regulasi.

"Dimulai dari memberikan motivasi dan pengajaran kepada anak-anak di usia sedini mungkin untuk perempuan mengenai dunia STEM. Perusahaan-perusahaan privat atau bisnis, pemerintah, dan masyarakat atau komunitas semuanya berkontribusi membantu," katanya.

Dari sisi pemerintah, harus memberikan ruang dengan regulasi yang baik kepada dunia bisnis.

Di bisnis harus memberikan kesempatan karena ada korelasi positif dengan keterwakilan perempuan dengan kinerja bisnis. Fuad mengatakan penelitian UN Women pada 2016, dimana makin tinggi keterwakilan perempuan dalam dunia bisnis, profit finansial perusahaan semakin tinggi.

Dia menambahkan dari sisi perusahaan perlu ada upaya mendorong perempuan untuk menduduki posisi kunci kepemimpinan di perusahaan. Selain itu juga memberikan fleksibilitas kepada perempuan untuk bisa berkarier di perusahaan tersebut.

Kemudian, komunitas, banyak budaya atau stereotipe yang akhirnya membuat perempuan Indonesia menjadi tertahan untuk bisa maju.

Riset Accenture pada 2017 berkaitan dengan digital fluency atau kefasihan digital yang mengukur cara memanfaatkan teknologi digital untuk hal produktif.

Adapun digital fluency perempuan Indonesia terbilang masih minim. Indonesia berada di peringkat kedua dari terakhir atau ke-25 dari 26 negara yang ada di riset ini.

Fuad mengatakan sebenarnya bagi perusahaan di Indonesia, tenaga kerja yang ada di Indonesia dapat digunakan. Namun, dari pemerintah, akademisi, bisnis harus bersama-sama meningkatkan tenaga kerja di Indonesia.

"Harus ditingkatkan lagi dari sisi sumber daya manusia dan pendidikannya di STEM ini,"

Di sisi lain, Fuad mengatakan para eprempuan khususnya di Indonesia juga butuh role model atau orang yang bisa dijadikan suri tauladan dari industri STEM yang suskes.

"Jika ada role model itu, perempuan lain juga akan termotivasi. Ini sudah ada tapi harus ditingkatkan dan dioptimalkan lagi," katanya

Sementara itu, Sri Widowati, Country Director Facebook Indonesia, mengatakan teknologi sudah dan akan semakin besar peranannya dalam merngubah kehidupan manusia. Jadi ada gap untuk skill itu harus dipenuhi semua orang namun ada pnekanan ke perempuan.

"Mengapa harus underline perempuan karena harus didorong kerena impact dan role dari perempuan itu sendiri, perannya yang sangat besar, baik untuk bekerja dan keluarga. Jadi kalau perempuan itu menang maka semua itu menang," katanya.

Silvia Halim, Construction Director of PT MRT Jakarta Indonesia, mengatakan perlu pendidikan bagi generasi muda untuk bisa mumpuni secara pengetahuan di industri STEM ini, agar Indonesia memliki insinyur lokal yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan.

"Di kalangan perempuan juga perlu mendukung satu sama lain dan menjadi role model sebagai tanggung jawab sosial," katanya.

Ilham Habibie, Presiden Direktur PT ILTHABI Rekatama sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Telematika, Penyiaran, dan Ristek Kadin Indonesia, mengatakan secara ketersediaan talenta, semakin banyak perempuan masuk maka akan semakin banyak kontribusi karena dari sisi populasi juga besar. Kemudian, diversitas dan gender akan memperkaya potensi berinovasi di industri STEM ini.

"Kesetaraan bukan sama. Harus jeli memberikan peluang setara, jangan mereduksi dan sama rata. Ada perbedaan yang harus kita merayakan dan ada kesamarataan atau persamaan yang harus kita jaga," ujarnya.

Tag : manajemen
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top