Shell dan Total Berebut Pangsa Pasar Bensin Oktan 90

Bisnis bensin sebagai bahan bakar kendaraan bermotor masih memiliki potensi besar di Indonesia. Dua perusahaan asing yakni, Total lewat anak usahanya di Indonesia, PT Total Oil Indonesia dan Shell melalui PT Shell Indonesia pun mencoba bisnis bensin dengan oktan 90 pada awal tahun ini.
Surya Rianto
Surya Rianto - Bisnis.com 22 Februari 2018  |  10:31 WIB
Shell - Reuters/Arnd Wiegmann

Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis bensin sebagai bahan bakar kendaraan bermotor masih memiliki potensi besar di Indonesia. Dua perusahaan asing yakni, Total lewat anak usahanya di Indonesia, PT Total Oil Indonesia dan Shell melalui PT Shell Indonesia pun mencoba bisnis bensin dengan oktan 90 pada awal tahun ini.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) lebih dulu meluncurkan produk bensin oktan 90 dengan nama Pertalite pada 2015. Lalu, apakah minat kedua perusahaan asing itu menjajakan produk bensin oktan 90 setelah melihat permintaan Pertalite cukup baik?

Kalau dilihat, Pertamina memang mencatat permintaan yang cukup tinggi untuk jenis Pertalite. Hal itu bisa disebabkan oleh distribusi Premium yang dibatasi dan adanya Pertalite yang memiliki harga eceran lebih murah ketimbang Pertamax.

Data Pertamina menunjukkan bahwa pada periode libur natal dan tahun baru 2018 kemarin, permintaan Premium turun 33% menjadi 28.000 kilo liter dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Di sisi lain, konsumsi Pertalite naik 44,11% menjadi 49.000 kilo liter dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 34.000 kilo liter.

Kemudian, konsumsi Pertamax mencatatkan kenaikan 21% menjadi 17.000 kilo liter, sedangkan permintaan Pertamax Turbo sebanyak 790 kilo liter.  Dari laporan keuangan Pertamina pada 2015 dan 2016, pendapatan dari penjualan produk bensin nonkhusus dan penugasan itu terus mencatatkan kenaikan.

Pertamina mencatat pertumbuhan penjualan semua jenis Pertamax dan Pertadex pada 2015 sebesar 82,47% menjadi US$1,57 miliar dibandingkan 2014. Pada 2015, perusahaan pelat merah itu belum memasukkan pendapatan dari Pertalite.

Pada 2016, Pertamina mencatat penjualan Pertalite, Pertamax, dan Pertadex naik 51,82% menjadi US$2,38 miliar dibandingkan dengan 2015.

Bila dilihat dari segi presentase memang lebih rendah, tetapi kenaikan nominal justru bertambah US$100 juta. Pada 2015, Pertamina hanya mencatatkan pertumbuhan nominal bisnis itu senilai US$710,88 juta, sedangkan pada 2016 mencatatkan pertumbuhan nominal US$815,16 juta.

Sementara itu, Total dan Shell pun melirik bisnis bensin oktan 90 ini dengan alasan jumlah kendaraan terus meningkat. Apalagi, di tengah penjualan bensin subsidi seperti, Premium kian terbatas.

Managing Director Total Oil Indonesia Franck Giraud mengatakan, pihaknya melihat jumlah kendaraan terus meningkat setiap tahun. Dengan begitu, permintaan bahan bakar juga akan meningkat.

"Saat ini, kami menilai waktu yang tepat untuk menjajakan bensin dengan oktan 90 untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi pada Rabu (21/2).

Di sisi lain, Shell pun mencatat produk bensin oktan 90 dengan nama Shell reguler itu bertujuan untuk melengkapi produk yang sudah ada yakni Shell V-Power dan Shell Super. Direktur Retail Shell Indonesia Wahyu Indrawanto mengatakan, produk anyar perseroan itu diharapkan bisa meningkatkan efisiensi perjalanan masyarakat Indonesia.

Adapun, penjualan bensin oktan 90 dari perusahaan asal Prancis yakni, Total, dan perusahaan asal Belanda, Shell, masih terbatas.

Total baru menjajakan produk Peformance 90 di kawasan Jabodetabek seperti, Bumi Serpong Damai (BSD), Bekasi, MT. Haryono, Pasar Minggu, dan Cideng. Total menjanjikan pada Maret 2018 produk anyarnya itu sudah bisa menjamah 18 titik di Jabodetabek dan Bandung.

Lalu, Shell juga baru menjajakan produk Shell Reguler di 11 titik yang berada di kawasan seperti, Jakarta Timur, Tangerag, dan Bekasi.

Wajib Lapor

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut selain produk BBM bersubsidi seperti, Solar dan Premium, badan usaha lain dipersilahkan menjual produk yang sama tanpa ada penugasan khusus.

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Migas Kementerian ESDM mengatakan aksi Total dan Shell menjual produk bensin oktan 90 bukan sebuah masalah karena produk itu termasuk jenis BBM umum atau bukan jenis penugasan khusus dan tertentu seperti Solar dan Premium.

"Namun, mereka [Shell dan Total] harus lapor juga ke kementerian. Kan, ada aturan terkait margin keuntungan penjualan eceran BBM umum," ujarnya.

Dalam peraturan menteri (Permen) ESDM nomor 4 tahun 2015 yang merupakan hasil revisi dari Permen 39 tahun 2014 tentan perhitungan harga jual eceran bahan bakar minyak dibahas maksimal dan minimum margin yang diambil badan usaha dalam menjajakan BBM umum.

Pada permen itu disebut perhitungan harga jual eceran jenis BBM umum paling rendah adalah 5% dari harga dasar, sedangkan harga jual eceran tertinggi sebesar 10% dari harga dasar.

Tag : pertamina
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top