Waskita Karya Buka-bukaan soal Kecelakaan di Sejumlah Proyeknya

Tujuh kali mengalami kecelakaan konstruksi dalam 7 bulan terakhir, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. membeberkan sejumlah temuan untuk memperbaiki pembangunan proyek yang tengah berjalan.
Irene Agustine
Irene Agustine - Bisnis.com 22 Februari 2018  |  20:16 WIB
Longsor di Underpass KA Jl. Perimeter Selatan (Bandara Soekarno-Hatta arah ke Tangerang), lalin tersendat dan masih penanganan Polri serta pihak-pihak terkait. - Twitter @MC Polda Metro Jaya

Bisnis.com, JAKARTA — Tujuh kali mengalami kecelakaan konstruksi dalam 7 bulan terakhir, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. membeberkan sejumlah temuan untuk memperbaiki pembangunan proyek yang tengah berjalan.

Direktur Operasi II PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Nyoman Wirya Adnyana menyatakan bahwa hampir seluruh proyek yang mengalami kecelakaan konstruksi dan dikerjakan perseroan bermasalah dengan girder(balok baja berbentuk lurus).

Setelah mengkaji kembali dengan melibatkan ahli konstruksi dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Nyoman mengatakan bahwa ada dua hal yang telah menjadi perbaikan perseroan untuk pembangunan proyek.

“Jadi, sampai pada kesimpulan bahwa, pertama, girder itu harus dikasih pengaku [penguat]. Terus dikasih perkuatan sehingga dia tidak gampang eksentrisitas. Itu yang pertama,” kata Nyoman dalam diskusi tentang Penghentian Sementara Konstruksi Layang, di Gedung Serbaguna Kominfo, Kamis (22/2/2018).

Pasalnya, dalam kecelakaan di beberapa proyek seperti ruas tol Pasuruan—Probolinggo dan Pejagan—Pemalang, Waskita menggunakan girder nonstandar atau girder yang memiliki panjang di atas 40 meter.

Nyoman mengatakan bahwa ada perbedaan kecepatan angin yang kurang diperhitungkan dalam pemakaian girder nonstandar.

Dia mencontohkan pemakaian girder nonstandar 50,8 m x 2,3 m x 7,5 cm yang memiliki desain cukup langsing sehingga perhitungan kecepatan angin harus jadi perhatian. Ukuran girder dengan desain langsing tersebut dipakai di pengerjaan proyek tol Bogor—Ciawi—Sukabumi yang juga mengalami kecelakaan konstruksi.

“Misalnya, kami lalai memperhitungkan kecepatan angin. Kalau dulu girder-nya standar, kecepatan angin barangkali tidak terlalu signifikan. Kalau sekarang girder tidak standar,” ujarnya.

Selain harus memperhatikan kecepatan angin, penggunaan girder nonstandar juga harus memperhatikan ketepatan pemasangan. “Kalau tidak sentris sedikit saja, itu akan menimbulkan eksentrisitas. Kalau tidak center, ini bisa terguling.”

Kesimpulan kedua yang diambil ialah agar titik berat pengangkatan harus lebih tinggi dari titik berat yang diangkat.

“Memang titik angkatnya itu tidak bisa lagi dilakukan dengan yang standar. Jadi, harus diperkhusus agar istilahnya kalau di bahasa teknik sipil, titik berat pengangkatan itu harus lebih tinggi dari titik berat yang diangkat,” jelasnya.

Adapun, dia mengatakan bahwa dengan sejumlah kecelakaan konstruksi yang terjadi, Waskita berupaya untuk lebih berhati-hati menjalankan standar operasional prosedur (SOP).

“Memang dari sekian banyak kejadian, mengingatkan kepada kami bahwa semua ini kami harus lebih hati-hati menjalankan SOP. Dan juga menjalankan faktor-faktor yang selama ini kami lalai perhitungkan,” jelasnya.

Sebelumnya, dari 14 kecelakaan konstruksi yang terjadi sejak Agustus 2017, sampai dengan 20 Februari 2018, sebanyak 7 diantaranya dikerjakan oleh emiten berkode WSKT tersebut.

Perinciannya, yakni proyek LRT Palembang (4 Agustus 2017), tol Bogor—Ciawi—Sukabumi (22 September 2017), tol Pasuruan—Probolinggo (29 Oktober 2017), tol Layang Jakarta—Cikampek II (16 November 2017).

Kemudian, kecelakaan konstruksi proyek Waskita terjadi pada proye tol Pemalang—Batang (30 Desember 2018), tembok Jalan Perimeter Proyek Kereta Bandara (5 Februari 2017), dan terakhir tol Becakayu (20 Februari 2018).

Tag : waskita karya, kecelakaan konstruksi
Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top