INFLUENCER MEDSOS: Chacha Thaib, Bermula Dari Hobi Kemudian Dilirik Brand

Pemilik nama lengkap Annisa Nadzirani Nugraha atau yang lebih akrab disapa Chacha Thaib tidak sengaja untuk dikenal sebagai influencer seperti saat ini.
Agne Yasa
Agne Yasa - Bisnis.com 26 Februari 2018  |  09:25 WIB
. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Pemilik nama lengkap Annisa Nadzirani Nugraha atau yang lebih akrab disapa Chacha Thaib tidak sengaja untuk dikenal sebagai influencer seperti saat ini.

Perempuan yang berusia 27 tahun ini awalnya hanya menjalankan hobinya untuk menulis dan membagikan foto gaya berpakaian (outfit) yang kemudian menarik perhatian banyak audiens di akun sosial medianya.

Kala itu pada 2010, Chacha menggunakan twitter untuk membagikan tulisan dan gaya berpakaiannya, ternyata banyak yang memberikan komentar dan membagikan ulang hingga akhirnya konten yang diunggahnya menyebar. Akhirnya, Chacha dikenal menjadi salah satu inspirasi cara berpakaian dan menulis.

“Tren sekarang menyebutnya sebagai influencer,” ujarnya kepada Bisnis.

Perempuan yang sebelumnya berkarier sebagai content writer di salah satu radio swasta di Jakarta ini kini telah menggunakan berbagai platform seperti Twitter, Blog, dan Instagram.

Menurutnya, masing-masing platform memiliki karakteristiknya sendiri, baginya Twitter dapat lebih santai dan cocok untuk menulis dan menuangkan isi kepala. Kemudian, blog lebih sering digunakan untuk menulis puisi panjang dan melakukan review brand. Untuk instagram, Chacha menilai sekarang ini menggabungkan semuanya.

Chacha yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Pertanian Bogor ini juga terus berkembang sebagai content creator.

Memulai pada 2010 dengan Twitter, pengikut Chacha di sosial media terus bertambah. Awalnya akun sosial media yang digunakan untuk berinteraksi dengan teman-teman yang dikenal, kini berkembang dengan banyaknya pengikut yang di luar lingkaran pertemanannya.

“Dari nulis itu, dan seiring bertambahnya followers jadi sering diajak kerjasama dengan berbagai brand untuk produk komersial mereka, mereka hire aku sebagai key opinion leader atau KOL,” jelasnya.

Saat ini, untuk platform blog sudah ada lebih dari 1 juta viewers. Untuk twitter 58.000 pengikut dan Instagram sekitar 71.000 pengikut per Februari 2018 ini.

Menurutnya, label influencer yang disematkan padanya telah banyak membuka peluang, mulai dari berkenalan dengan orang baru, pemimpin perusahaan, sesama influencer, dna lainnya.

Selain itu, Chacha juga mendapat pengalaman baru dan bisa banyak belajar dan mengeksplorasi hal-hal lainnya. Kesempatan dan pengalaman yang diperoleh juga menurutnya membuat influencer ini dapat disebut sebagai entrepreneur.  

“Bisa sih [influencer disebut entrepreneur], karena kan ada yang ‘dijual’ ya, ada yang ‘diperdagangkan’ dan itu menghasilkan uang, menawarkan jasa dan menjalin kerja sama,” ujarnya.

Memulai sejak 2010, setelah delapan tahun ini, sudah beragam brand yang menggunakan jasa Chacha Thaib. Mulai dari produk kosmetik, baju, sepatu, kebutuhan rumah tangga, e-commerce, handphone, provider, dan lainnya.

Dari pantauan Bisnis, brand seperti Wardah, Nivea, hingga kecap Bango ada di postingan Instagram chachathaib. Di blog, ada tulisan review dari produk pelembut pakaian hingga alat blender. 

Selain itu, Chacha juga menerima endorse mulai dari produk hijab dari kepala hingga kaki. Untuk ini, dia mengatakan biasanya prosesnya biasanya setelah membayar posting fee dan mengirimkan produk, Chacha akan posting di Instagram.

“Untuk skema kerjasama biasanya diatur dan diurus oleh managerku, aku terima brief singkat dari dia aja untuk apa yang harus aku lakukan,” katanya.

Chacha mengatakan begitu pun terkait pembayaran dan tarif, hal tersebut juga diatur dan dipertimbangkan dengan berbagai faktor. Chacha juga tidak berkenan menyebutkan biaya yang dikenakan untuk kerja sama saat ini.

Namun, pada awalnya ketika di Twitter, untuk satu kali kicauan Chacha bisa dibayar untuk nilai ratusan ribu rupiah hingga berkembang menjadi jutaan rupiah nilainya untuk blog dan Twitter, bergantung berapa banyak dan lamanya.  

“Lama kerja sama maksimal tiga bulan, untuk eksklusif satu tahun baru deh dibedain rate-nya karena kan tidak bisa kerja sama dengan kompetitor selama waktu yang ditentukan,” katanya.

Tidak selesai dengan melakukan posting, Chacha juga memiliki tanggung jawab setelahnya yaitu mengirimkan bukti tayang, dan beserta impression dan insightnya.

Semakin berkembangnya tren influencer, Chacha mengatakan saat ini dirinya masih dipercaya sebagai represetatif brand.  

“Bisa jadi karena konsistensi, karena engagement dan apa adanya  aku di hadapan followers,” katanya.

Chacha menempatkan dirinya sebagai lifestyle influencer yang lebih general dan tidak mengkhususkan pada segmen tertentu. Chacha sendiri memiliki ketertarikan di dunia fesyen terutama untuk fesyen muslimah, kecantikan, dan perjalanannya sebagai ibu dalam mengasuh anaknya.

“Kalau lifestyle kan bisa ke segala aspek gitu, terus terang pasar-nya lebih besar,” ujarnya.

Chacha juga memiliki target tahun ini, untuk bisa lebih mengembangkan kerja sama ke bidang-bidang lainnya, seperti agen perjalanan dan properti.

“Saya pingin perbanyak kerja sama dengan travel agent biar bisa traveling ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi, dan kerja sama dengan agent properti,” jelasnya.  

Namun, menjadi influencer juga memiliki tantangan selayaknya pekerjaan lainnya. Chacha mengatakan dikenal sebagai influencer membuatnya bisa mendapatkan produk dan mendapatkan pundi-pundi rupiah dari konten yang dibuatnya. Di sisi lain, sebagai influencer yang juga menjadi publik figur, ruang privasi juga menjadi terbatas.

Menurutnya, jika ingin menjadi influencer, seseorang harus memastikan dan menentukan personal branding dan passion dari diri sendiri. Untuk menjadi content creator yang kemudian dikenal sebagaiinfluencer juga menurutnya tidak harus selalu bermodalkan kamera puluhan juta, tetapi selera juga penting.

“Asal punya taste yang bagus saja,” ujarnya. 

Pemilik nama lengkap Annisa Nadzirani Nugraha atau yang lebih akrab disapa Chacha Thaib tidak menyengaja untuk dikenal sebagai influencer seperti saat ini.

Perempuan yang berusia 27 tahun ini awalnya hanya menjalankan hobinya untuk menulis dan membagikan foto gaya berpakaian (outfit) yang kemudian menarik perhatian banyak audiens di akun sosial medianya.

Kala itu pada 2010, Chacha menggunakan twitter untuk membagikan tulisan dan gaya berpakaiannya, ternyata banyak yang memberikan komentar dan membagikan ulang hingga akhirnya konten yang diunggahnya menyebar. Akhirnya, Chacha dikenal menjadi salah satu inspirasi cara berpakaian dan menulis.

“Tren sekarang menyebutnya sebagai influencer,” ujarnya kepada Bisnis.

Perempuan yang sebelumnya berkarier sebagai content writer di salah satu radio swasta di Jakarta ini kini telah menggunakan berbagai platform seperti Twitter, Blog, dan Instagram.

Menurutnya, masing-masing platform memiliki karakteristiknya sendiri, baginya Twitter dapat lebih santai dan cocok untuk menulis dan menuangkan isi kepala. Kemudian, blog lebih sering digunakan untuk menulis puisi panjang dan melakukan review brand. Untuk instagram, Chacha menilai sekarang ini menggabungkan semuanya.

Chacha yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Pertanian Bogor ini juga terus berkembang sebagai content creator.

Memulai pada 2010 dengan Twitter, pengikut Chacha di sosial media terus bertambah. Awalnya akun sosial media yang digunakan untuk berinteraksi dengan teman-teman yang dikenal, kini berkembang dengan banyaknya pengikut yang di luar lingkaran pertemanannya.

“Dari nulis itu, dan seiring bertambahnya followers jadi sering diajak kerjasama dengan berbagai brand untuk produk komersial mereka, mereka hire aku sebagai key opinion leader atau KOL,” jelasnya.

Saat ini, untuk platform blog sudah ada lebih dari 1 juta viewers. Untuk twitter 58.000 pengikut dan Instagram sekitar 71.000 pengikut per Februari 2018 ini.

Menurutnya, label influencer yang disematkan padanya telah banyak membuka peluang, mulai dari berkenalan dengan orang baru, pemimpin perusahaan, sesama influencer, dna lainnya.

Selain itu, Chacha juga mendapat pengalaman baru dan bisa banyak belajar dan mengeksplorasi hal-hal lainnya. Kesempatan dan pengalaman yang diperoleh juga menurutnya membuat influencer ini dapat disebut sebagai entrepreneur.  

“Bisa sih [influencer disebut entrepreneur], karena kan ada yang ‘dijual’ ya, ada yang ‘diperdagangkan’ dan itu menghasilkan uang, menawarkan jasa dan menjalin kerja sama,” ujarnya.

Memulai sejak 2010, setelah delapan tahun ini, sudah beragam brand yang menggunakan jasa Chacha Thaib. Mulai dari produk kosmetik, baju, sepatu, kebutuhan rumah tangga, e-commerce, handphone, provider, dan lainnya.

Dari pantauan Bisnis, brand seperti Wardah, Nivea, hingga kecap Bango ada di postingan Instagram chachathaib. Di blog, ada tulisan review dari produk pelembut pakaian hingga alat blender. 

Selain itu, Chacha juga menerima endorse mulai dari produk hijab dari kepala hingga kaki. Untuk ini, dia mengatakan biasanya prosesnya biasanya setelah membayar posting fee dan mengirimkan produk, Chacha akan posting di Instagram.

“Untuk skema kerjasama biasanya diatur dan diurus oleh managerku, aku terima brief singkat dari dia aja untuk apa yang harus aku lakukan,” katanya.

Chacha mengatakan begitu pun terkait pembayaran dan tarif, hal tersebut juga diatur dan dipertimbangkan dengan berbagai faktor. Chacha juga tidak berkenan menyebutkan biaya yang dikenakan untuk kerja sama saat ini.

Namun, pada awalnya ketika di Twitter, untuk satu kali kicauan Chacha bisa dibayar untuk nilai ratusan ribu rupiah hingga berkembang menjadi jutaan rupiah nilainya untuk blog dan Twitter, bergantung berapa banyak dan lamanya.  

“Lama kerja sama maksimal tiga bulan, untuk eksklusif satu tahun baru deh dibedain rate-nya karena kan tidak bisa kerja sama dengan kompetitor selama waktu yang ditentukan,” katanya.

Tidak selesai dengan melakukan posting, Chacha juga memiliki tanggung jawab setelahnya yaitu mengirimkan bukti tayang, dan beserta impression dan insightnya.

Semakin berkembangnya tren influencer, Chacha mengatakan saat ini dirinya masih dipercaya sebagai represetatif brand.  

“Bisa jadi karena konsistensi, karena engagement dan apa adanya  aku di hadapan followers,” katanya.

Chacha menempatkan dirinya sebagai lifestyle influencer yang lebih general dan tidak mengkhususkan pada segmen tertentu. Chacha sendiri memiliki ketertarikan di dunia fesyen terutama untuk fesyen muslimah, kecantikan, dan perjalanannya sebagai ibu dalam mengasuh anaknya.

“Kalau lifestyle kan bisa ke segala aspek gitu, terus terang pasar-nya lebih besar,” ujarnya.

Chacha juga memiliki target tahun ini, untuk bisa lebih mengembangkan kerja sama ke bidang-bidang lainnya, seperti agen perjalanan dan properti.

“Saya pingin perbanyak kerja sama dengan travel agent biar bisa traveling ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi, dan kerja sama dengan agent properti,” jelasnya.  

Namun, menjadi influencer juga memiliki tantangan selayaknya pekerjaan lainnya. Chacha mengatakan dikenal sebagai influencer membuatnya bisa mendapatkan produk dan mendapatkan pundi-pundi rupiah dari konten yang dibuatnya. Di sisi lain, sebagai influencer yang juga menjadi publik figur, ruang privasi juga menjadi terbatas.

Menurutnya, jika ingin menjadi influencer, seseorang harus memastikan dan menentukan personal branding dan passion dari diri sendiri. Untuk menjadi content creator yang kemudian dikenal sebagaiinfluencer juga menurutnya tidak harus selalu bermodalkan kamera puluhan juta, tetapi selera juga penting.

 

Tag : instagram
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top