Produksi Migas dari 8 Blok Migas Terminasi Turun

SKK Migas menyebut blok terminasi mengalami penurunan produksi. Tren penurunan pun mulai tampak sejak 2013.
Surya Rianto
Surya Rianto - Bisnis.com 26 Februari 2018  |  16:21 WIB
Ilustrasi pengeboran minyak lepas pantai. - Bloomberg/Angel Navarrete

Bisnis.com, JAKARTA - SKK Migas menyebut blok terminasi mengalami penurunan produksi. Tren penurunan pun mulai tampak sejak 2013.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabowo Taher mengatakan, rata-rata blok terminasi mengalami penurunan produksi. Lalu, penurunan produksi yang terjadi itu sangat sulit untuk kembali dinaikkan dalam waktu cepat.

"Kami pun memberikan atensi khusus terkait hal itu dan menyampaikan kepada Pertamina sebagai pengelola blok terminasi itu untuk lebih cepat dalam melakukan pengembangan," ujarnya Senin (26/2).

Adapun, penurunan pada produksi migas di blok terminasi itu menuntut Pertamina untuk melakukan eksplorasi.

Sebelumnya, Direktur Utama PHE R Gunung Sardjono Hadi mengklaim produksi pada blok Ogan dan Tuban sudah di atas target. Blok Ogan mencatatkan produksi sebesar 2.300 barel per hari atau 117% dari target awal, sedangkan untuk blok Tuban telah berproduksi sebesar 8.000 barel per hari sampai 10.000 barel per hari yang juga sudah diatas target.

Namun, dalam catatan Bisnis, produksi Ogan Komering sampai November 2017 berada pada kisaran 3.212 barel ekuivalen per hari, sedangkan blok Tuban sebesar 10.449 barel ekuivalen per hari. Dengan kata lain, ada penurunan produksi pada awal 2018 dibandingkan rata-rata 2017.

Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI mencatat untuk menjaga kelangsungan Pertamina, perusahaan pelat merah itu jangan hanya diberi blok migas tua yang cadangannya sudah sedikit, tetapi juga diberikan wilayah yang memiliki potensi besar.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Herman Khoiron mengatakan, ada beberapa blok migas terminasi pada tahun ini seperti, blok Sanga-sanga pada 8 Agustus 2018, blok Southeast Sumatra pada 5 September 2018, sedangkan Ogan Komering dan Tuban akan terminasi pada 28 Februari 2018.

"East Kalimantan juga akan habis pada Oktober 2018. Kami pun menanyakakan kemampuan Pertamina untuk mengelola 8 blok itu, mereka mengaku mampu," ujarnya.

Herman mengatakan, walaupun dalam mengkaji blok East Kalimantan cukup mendalam karena dari sisi deploy yang cukup membebani.

Tag : pertamina
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top