Agar Tiket Kapal Terjangkau, Pelni Dapat PSO Rp1,8 Triliun

PT Pelni mendapat alokasi anggaran kewajiban pelayanan publik (PSO) sebesar Rp1,86 triliun untuk angkutan laut kelas ekonomi.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 26 Februari 2018  |  13:33 WIB
Kapal Motor Dobonsolo, salah satu yang dikelola Pelni, memasuki Pelabuhan Makassar, Kamis (7/9). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni mendapat alokasi anggaran kewajiban pelayanan publik (PSO) sebesar Rp1,86 triliun untuk angkutan laut kelas ekonomi. Subsidi tersebut digunakan untuk 266 pelayaran kelas ekonomi yang dilayani oleh Pelni sepanjang 2018.

Alokasi dana PSO tersebut tertuang dalam Perjanjian Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik Bidang Angkutan Laut untuk Penumpang Kelas Ekonomi Tahun Anggaran 2018. Kontrak PSO Tahun 2018 diteken oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R. Agus H. Purnomo dan Direktur Utama PT. Pelni Insan Purwarisya L. Tobing di Jakarta, Senin (26/2/2018).

Agus mengatakan jumlah tersebut turun dibandingkan PSO pada 2017 sebanyak Rp2,05 triliun. Dia menyebut, Pelni mendapat tantangan berat dalam menyelenggarakan angkutan laut di tengah tren moda transportasi udara yang makin menggeliat. "Ini perlu dicermati, kita perlu cari destinasi lain [yang belum dirambah pesawat udara]," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, subsidi PSO kepada Pelni sudah dikucurkan sejak 2003. Subsidi ini merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam memenuhi hak warga negara untuk mendapatkan akses transportasi, terutama di wilayah kepulauan. PSO diberikan agar layanan jasa tetap bisa dijangkau oleh sebagian besar masyarakat.

Insan menungkapkan tren penumpang angkutan laut dalam beberapa tahun terakhir terus menurun dengan persentase rata-rata 8% per tahun. "Jadi penguasan kami memang tidak mudah dan tidak ringan, kalau penumpang turun, biaya PSO bisa jadi naik," jelasnya.

Kendati demikian, Pelni berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada penumpang. Pelni juga tengah mengkaji perubahan pola operasi agar biaya operasional lebih efisien. Insan menyebut, rute-rute jarak jauh bisa dibagi dalam beberapa rute atau pelayaran transit.

Dia menggambarkan, rute Jakarta-Jayapura bisa dibagi: kapal dari Jakarta berlayar ke Makassar dan kapal lain berlayar dari Makassar ke Jayapura. Dengan pola seperti ini, frekuensi kapal ke Jakarta-Makassar maupun Makassar-Jayapura akan lebih sering. "Trayek sepanjang itu kami potong, segmen cost akan lebih murah," ujarnya.

Tag : pelni
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top