Pengusaha Indonesia Atur Strategi Naikkan Ekspor ke Brazil

Kalangan pengusaha menargetkan peningkatan nilai transaksi Indonesia dengan Brazil setelah total perdagangan terus anjlok sejak empat tahun terakhir.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 02 Mei 2018  |  21:06 WIB
Dubes Brazil untuk Indonesia Rubem Antonio Correa Barbosa (kiri) berbincang dengan Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P. Roslani (kedua kanan) disaksikan Wakil Ketua Umum bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani (kanan) dan Ketua Komite Brazil Kadin Anderson Tanoto, seusai pelantikan Kadin Komite Brazil di Jakarta, Rabu (2/5/2018). - JIBIAbdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan pengusaha menargetkan peningkatan nilai transaksi Indonesia dengan Brazil setelah total perdagangan terus anjlok sejak empat tahun terakhir.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total perdagangan Indonesia Indonesia dengan Brazil mencapai puncaknya dalam lima tahun terakhir sebesar US$4,05 juta pada 2014. Namun setelahnya berangsur turun melambat.

Perdagangan kedua negara merosot menjadi US$3,59 juta pada 2015 dan terus turun menjadi US$3,50 juta pada 2016. Puncaknya penurunan paling kentara terjadi di 2017 dengan hanya mencatat perdagangan sebesar US$3,18 juta.

Secara rata-rata tren penurunan perdagangan Brazil – RI sejak 2013 hingga 2017 sebesar 4,49%. Meski begitu secara year to year, Indonesia mencatatkan kenaikan transaksi dagang sebesar 16,70% pada periode Januari – Februari 2017 sebesar US$442.365 menjadi US$US$516.226 pada periode sama 2018.

Secara neraca dagang, Indonesia juga mengalami defisit berturut-turut sejak 2013. Adapun pada tahun tersebut neraca perdagangan RI dengan Brazil mengalami defisit untuk Indonesia sebesar US$701.551, kemudian membengkak menjadi US$1,05 juta pada 2014.

Defisit semakin membesar hingga mencapai US$1,25 juta pada 2016 dan makin naik menjadi US$1,30 juta. Namun pada 2017 defisit Indonesia terhadap Brazil mulai turun menjadi US$728.740.

Atas kondisi ini, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menargetkan kenaikan transaksi dagang sebesar 20% dengan Brazil. Salah satu upaya yang ditempuh ialah membentuk Komite Brazil Kadin Indonesia.

Adapun Ketua Komite Brazil Anderson Tanoto mengatakan tujuan utama dibentuknya komite tersebut dan juga program-program lainnya adalah untuk meningkatkan hubungan bilateral antara kedua negara dan untuk meningkatkan volume perdagangan.

“Kami ingin membantu perusahaan dan kantor-kantor pemerintahan, baik Indonesia dan Brazil menjadi dekat sehingga dapat memperbesar hubungan perdagangan antara Brazil dan Indonesia,” katanya di Hotel Mandarin Oriental, Rabu (2/5).

Komite ini diharapkan berkontribusi pada peningkatan misi-misi perdagangan, serta kunjungan delegasi kenegaraan serta mampu bertindak sebagai forum yang memfasilitasi penandatanganan perjanjian diantara pelaku usaha dan kedua negara.

Menurut data Kadin, selama ini Indonesia mengekspor komoditas berupa benang, karet, minyak kelapa sawit, alas kali, besi dan baja, kelapa kering, minyak dan lemak nabati, kakao, cuku cadang elektronik dan otomotif ke Brazil.

Sebaliknya Brazil mengekspor komoditas seperti kedelai, gula, kapas, tembakau, bijih besi, daging, kulit hingga jagung ke Indonesia. Kedua negara juga merupakan anggota dari organisasi perdagangan dunia (WTO) dan G-20.

Setidaknya ada empat poin tujuan dibentuk komite tersebut. Pertama bertindak sebagai sarana untuk membangun komunikasi dan interaksi yang berkelanjutan dengan kedutaan besar brazil.

Kedua, membantu pemerintah Indonesia meningkatkan hubungan dagang dengan Brazil, sekaligus memperkuat hubungan antara pemerintah Indonesia dengan Brazil.

Ketiga, membantu perusahaan dari kedua negara dalam hal perdagangan dan investasi sehingga mampu meningkatkan pengetahuan perusahaan dari kedua negara. Keempat, guna membantu mempromosikan produk-produk dan budaya Indonesia di Brazil dan sebaliknya.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta W Kamdani mengemukakan selama ini belum ada langkah untuk memaksimalkan potensi perdagangan RI dengan Negeri Samba.

“Hambatan utamanya Indonesia belum memiliki akses pasar ke Brazil baik dari segi tarif karena belum ada kerjasama perdagangan bebas,” katanya kepada Bisnis.com.

Selama ini menurutnya belum ada pengembangan ekspor produk selain yang sudah dilakukan selama ini. Padahal produk makanan dan minuman yang diunggulkan di Indonesa dapat diekspor ke negara itu. Belum lagi Brazil juga dapat menjadi penghubung dengan negara Amerika Latin lainnya.

Sementara dari segi pelaku usaha, hanya sejumlah kalangan saja yang dapat bekersama dengan negara tersebut. Selain letak geografis yang jauh dengan Indonesia, tarif yang masih tinggi dinilai masih menjadi penghalang transaksi dagang keduanya.

“Kami mendorong terjadinya investasi yang lebih banyak antar kedua negara dan memberntuk kemitraan dengan pengusaha lokal,” sebutnya.

Jika komite ini berjalan baik, Kadin menargetkan adanya peningkatan sekitar 20% dalam dua tahun mendatang dan setidaknya dapat terus tumbuh dua kali lipat dari saat ini dalam lima tahun ke depan.

Tag : ekspor
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top