Data Konsumen Online di Indonesia Tidak Bisa Diandalkan

Sebanyak 24% responden sengaja memberikan informasi yang keliru untuk data umur, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan mereka.
N. Nuriman Jayabuana
N. Nuriman Jayabuana - Bisnis.com 28 Juni 2018  |  13:44 WIB
Ilustrasi - dphase.com

JAKARTA — Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan pebelanja daring paling cepat di dunia. Laju perkembangan yang eksponensial membuat pasar digital di Indonesia rawan tindak penipuan.

Riset Experian dan IDC memperkirakan 74% pengguna internet di Indonesia telah mencoba berbelanja daring. Namun, riset yang sama menunjukkan 25% responden pernah mengalami tindak penipuan.

"Rata-rata 25% orang Indonesia pernah mengalami tindak penipuan melalui berbagai dagang-el dan layanan," ujar Managing Director, Southeast Asia and Emerging Markets, Experian Asia Pacific dalam keterangan resmi (26/6). 

Sekitar sepertiga dari korban penipuan akhirnya memilih beralih menggunakan layanan digital lain. Kurangnya adopsi fitur keamanan yang digunakan penyedia layanan menyebabkan konsumen masih menghadapi risiko tinggi.

Dalam riset yang sama terungkap bahwa 11% konsumen dagang-el Indonesia bersedia menggunakan fitur teknologi biometrik seperti pengenal sidik jari dan wajah di dalam aplikasi untuk meningkatkan keamanan.

Perusahaan penyedia layanan e-commerce dapat melindungi konsumen dari tindak penipuan dengan meningkatkan akurasi informasi konsumen untuk memverifikasi transaksi dengan baik. Hanya saja, hanya sebanyak 45% responden Indonesia yang menyatakan bersedia untuk membagikan data pribadi mereka kepada perusahaan penyedia layanan.

Konsumen Indonesia cenderung selektif dalam berbagi informasi data pribadi. Sebanyak 4,5% konsumen bahkan menyatakan sengaja mengisi informasi yang tidak akurat untuk menghindari pengungkapan data pribadi.

Angka itu bahkan lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata Asia Pasifik yaitu sebesar 5%. Sebanyak 31% responden mengaku melakukan kesalahan mendasar dalam data pribadi seperti alamat, nomor telepon dan nama; 27% menjaga kerahasiaan beberapa data pribadi seperti perincian pembayaran; dan 24% lainnya sengaja memberikan informasi yang keliru untuk data umur, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan mereka.

“Konsumen mengirimkan data yang tidak akurat atau dengan sengaja menghindari penyediaan informasi penting kepada perusahaan. Hal ini, menunjukkan bahwa lebih sulit bagi perusahaan untuk mengidentifikasi konsumen online mereka dan melawan tindak penipuan secara efektif," ujarnya

Laporan Digital Consumer Insights 2018 menggunakan metode survei konsumen yang dilakukan di sepuluh pasar APAC termasuk Australia, Tiongkok, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Selandia Baru, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Hal ini melihat bagaimana perusahaan membiayai untuk mengatasi tindak penipuan, melalui mata pelanggan mereka dan sebagai pelengkap dari laporan Fraud Management Insights 2017 yang menganalisa manajemen penipuan dari perspektif perusahaan.

Laporan ini menemukan bahwa tingkat kenyamanan dan penipuan saling mempengaruhi. Dengan pertumbuhan platform interaksi dan transaksi yang lebih nyaman seperti pembayaran tanpa gesekan, serta tujuan bekelanjutan untuk memberikan pengalaman yang lebih baik dan mudah kepada konsumen, peluang untuk penipuan justru meningkat.

Tag : belanja online
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top